Hot Borneo

Tanam Bawang Merah di Tanah Laut, Upaya Dinas TPH Kalsel Cegah Inflasi Pangan

apahabar.com, BANJARMASIN – Sejumlah kegiatan digelar Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Kalimantan Selatan untuk mencegah…

Featured-Image
Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Kalimantan Selatan menggelar kegiatan menanam bawang merah di Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanah Laut, baru-baru ini. Dinas TPH Kalsel for apahabar

apahabar.com, BANJARMASIN – Sejumlah kegiatan digelar Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Kalimantan Selatan untuk mencegah terjadinya inflasi pangan.

Baru-baru ini, Dinas TPH Kalsel menggelar kegiatan menanam bawang merah di Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanah Laut. Kegiatan itu juga melibatkan Pemkab Tanah Laut, dan UPTD Balai Benih TPH Kalsel.

Kepala Dinas TPH Kalsel, Syamsir Rahman, mengatakan kegiatan digelar untuk mengantisipasi terjadinya inflasi pangan.

“Permasalahan inflasi ini menjadi perhatian Presiden RI, sehingga upaya bersama perlu diperkuat untuk mengendalikan inflasi pangan,” ucapnya dalam rilis yang diterima apahabar.com, Rabu (14/9).

Karena alasan itu, Pemprov Kalsel dan Pemkab Tala, kata dia, berupaya menjalin sinergi untuk menyukseskan gerakan nasional pengendalian inflasi pangan melalui program pengendalian inflasi.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Talattov, mengatakan inflasi pangan berpotensi terjadi pasca-naiknya harga BBM. Sebab, kenaikan harga BBM meningkatkan biaya transportasi, khususnya untuk logistik kebutuhan pokok.

“Padahal inflasi pangan kemarin sudah 7,7 persen year on year.

Sudah barang tentu level atau angka inflasinya akan di atas 8 hingga 8,5 persen pada bulan September ini,” kata Abra dikutip dari Tempo.

Selain sektor transportasi dan pangan, Abra juga mengatakan sektor-sektor lainya akan turut terpapar. Poin yang membedakan hanyalah besaran dampak, jangka waktu, serta kecepatannya.

“Ada yang bulan ini. Ada yang bulan-bulan berikutnya,” kata dia.

Dengan kata lain, lanjut Abra, kenaikan harga BBM tidak hanya menimbulkan gelombang pertama inflasi. Namun bisa memicu gelombang kedua, ketiga, dan seterusnya. Tentunya, hal ini terjadi jika pemerintah tidak mampu melakukan stabilisasi harga. Karenanya, menurut Abra, beban pemerintah akan jauh lebih berat.

“Kemarin pemerintah kan mengeluarkan subsidi untuk energi, sehingga harga-harga lain bisa terjaga. Nah, sekarang ini bukan hanya harus menjaga inflasi di energi tapi menjaga inflasi di sektor-sektor lain,” ujarnya.(*)

Komentar