News

Sistem Tarif Cukai Indonesia Bikin Subur Konsumen Rokok Kalangan Remaja

  apahabar.com, JAKARTA – Sistem tarif cukai yang diterapkan pemerintah saat ini, meningkatkan konsumsi rokok dikalangan…

Featured-Image

apahabar.com, JAKARTA - Sistem tarif cukai yang diterapkan pemerintah saat ini, meningkatkan konsumsi rokok dikalangan remaja.

Deputi Director Visi Integrasi, Emerson Yuntho mengatakan remaja dalam rentang usia 10-18 tahun, mudah untuk mengakses rokok.

"Sistem cukai berjenjang, memberi kesempatan kepada industri rokok untuk mengembangkan banyak varian produk tembakau dengan harga terjangkau," ujarnya, pada acara diskusi secara virtual, di Jakarta, Kamis (1/9).

Emerson menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia telah menetapkan tiga sistem cukai. Sistem pertama Advalorem yang berakhir tahun 2006. Sistem kedua hybrid yang berakhir 2009. Kemudian sistem terakhir sekarang adalah spesifik.

"Pada sistem spesifik, rokok dibuat menjadi berjenjang. Jenjang tersebut, terbagi menjadi 3 jenis, yaitu SKT atau Sigaret Kretek Mesin, SPM atau, Sigaret Putih Mesin dan SKT atau Sigaret Kretek Tangan. Terdapat penggolongan lagi di dalamnya. Saat ini jumlah golongan yang ditetapkan terdapat 8 layer," jelasnya.

Sistem cukai berjenjang tersebut, memberi celah kepada perusahaan untuk membuat varian produk yang lebih murah. Varian murah tersebut, membuat banyak orang mudah untuk mengonsumsinya.

Selain itu, sistem berjenjang dapat merusak penerimaan negara yang menjadi salah satu tujuan dari pemberian cukai pada rokok. Ia menjelaskan bahwa dampak lainnya adalah hadirnya bentuk persaingan tidak sehat antara perusahaan besar dengan industri kecil.

Pemerintah sebelumnya, telah membuat peta penyederhanaan sistem cukai rokok. Ia menyampaikan, hal tersebut tecantum pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 146 tahun 2017.

Pada peraturan tersebut disampaikan peta penyederhanaan dimulai dari 10 layer yang akan dikurangi pada 2018, kemudian menjadi 6 layer, dan teakhir menjadi 5 layer di tahun 2021.

"Sayangnya, baru satu tahun peraturan tersebut ditetapkan, dibatalkan kembali melalui PMK nomor 156 tahun 2018," ujarnya.

Sistem berjenjang akan memperparah prevalensi merokok penduduk usia 10-18 tahun.

Ia mengatakan, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 dan proyeksi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) 2020, akan terjadi peningkatan prevalensi yang cukup signifikan sampai tahun 2030.

"Dari prevalensi tahun 2018 sebesar 9,1 persen, meningkat mencapai prevalensi 16 persen pada tahun 2030," ungkapnya.

Padahal, pemerintah sudah menetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) prevalensi perokok anak mencapai 8,7 persen di tahun 2024.

"Jika pemerintah tidak mereformasi sistem tarif cukai saat ini, RPJMN 2024 mungkin tidak akan tercapai," tutupnya. (Gabid)

Komentar