News

Simak, Solusi Hemat BBM 10 Persen Angkutan Logistik

Pemasangan sensor bahan bakar dan optimasi rute perjalanan dapat membantu pekerja logistik menghemat BBM hingga 10 persen.

Featured-Image
Angkutan logistik isi BBM di SPBU. Foto-Antara

apahabar.com, BANJARMASIN - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sangat dirasa pengusaha angkutan logistik. Namun bagaimana mengatasinya?

Ketua Umum Asosiasi Logistik Nasional (National Logistics Community/NLC) Angga Purnama punya solusinya.

Menurutnya, dengan pemasangan sensor bahan bakar dan optimasi rute perjalanan dapat membantu pekerja logistik menghemat BBM hingga 10 persen.

"Solusi jangka pendek bagi pelaku usaha logistik berarmada adalah menggunakan teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi BBM, seperti sensor bahan bakar,” ucap Angga dalam siaran resmi dilansir Antara, Selasa (4/10).

Ia menjelaskan, penggunaan sensor bahan bakar merupakan solusi paling ringkas bagi pengusaha logistik untuk menghemat biaya BBM.

Terutama sebelum menuju konversi ke kendaraan listrik, sekaligus mengurangi beban biaya bahan bakar di tengah kenaikan harga BBM.

"Biaya operasional logistik memiliki tujuh komponen utama, yaitu biaya BBM yang komposisinya paling besar sekitar 30-50 persen, ban, oli, maintenance, manpower, penyeberangan dan jalan tol," kata Angga.

"Kami mengimbau kepada teman-teman NLC dan pelaku logistik lainnya agar tetap bijaksana dan accountable ketika menghitung biaya yang akan dibebankan kepada konsumen karena sektor logistik adalah lokomotif penopang sektor lainnya," tutur dia.

Raymond Sutjiono, Co-founder startup McEasy menjelaskan, teknologi sensor BBM mampu melakukan tracking level BBM secara real-time dan menentukan rute optimal, sekaligus memonitor keterampilan pengemudinya.

"Konsumsi BBM biasanya meningkat tajam pada kecepatan di atas 80 km/jam. Karena itu, penting untuk memperbaiki perilaku pengemudi. Teorinya, dengan mengurangi kecepatan 8-16 km/jam, kendaraan dapat lebih hemat bahan bakar 7-14 persen,” lanjut Raymond.

Raymond menyarankan agar pemilik kendaraan logistik memanfaatkan teknologi GPS untuk membuat perencanaan perjalanan yang lebih efisien sehingga BBM tidak habis di perjalanan.

"Yang kedua adalah digitalisasi armada yang didukung dengan teknologi GPS dan sensor bahan bakar agar perencanaan rute lebih optimal dan penggunaan BBM lebih terkontrol,” ucap Raymond.

"Wajib servis armada secara berkala setiap tiga bulan atau ketika armada mencapai kelipatan 5.000 km. Mesin yang tidak terawat dengan baik membutuhkan bahan bakar yang lebih banyak," kata dia.

Editor
Komentar