News

Raih Penghargaan IRRI, Rektor IPB Sebut Pemerintah Perlu Lakukan Hal Ini

apahabar.com, JAKARTA – Rektor IPB University, Arif Satria mengungkapkan penghargaan dari International Rice Research Institute (IRRI)…

Featured-Image
Rektor IPB,Arif Satria. Foto: Detik.com

apahabar.com, JAKARTA – Rektor IPB University, Arif Satria mengungkapkan penghargaan dari International Rice Research Institute (IRRI) di Istana Negara, Minggu (14/8) tak terlepas dari meningkatnya diversifikasi pangan. Hal tersebut mampu membuktikan memenuhi kebutuhan beras di masa pandemi Covid-19 tanpa impor sekaligus berupaya menurunkan konsumsi beras.

Dia memaparkan, berdasarkan data SUSENAS, konsumsi beras di Indonesia menurun dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Dari yang semula 99 kilogram per kapita per tahun pada 2016, menjadi 94,4 kilogram per kapita per tahun pada 2021.

Arif menilai angka konsumsi per kapita itu masih bisa diturunkan hingga 85 kilogram per kapita per tahun, sesuai rekomendasi Pola Pangan Harapan. Asalkan, diimbangi dengan diversifikasi konsumsi pangan karbohidrat lokal, serta peningkatan konsumsi sayuran, buah, kacang-kacangan, dan pangan hewani.

“Bila penurunan konsumsi beras per kapita sesuai Pola Pangan Harapan ini dapat direalisasiakan, maka Indonesia semakin mandiri pangan,” ujarnya dalam siaran daring di akun Youtube Sekretariat Presiden, Minggu (14/8).

Untuk mewujudkan hal tersebut, sambung Arif, pemerintah perlu mensejahterakan petani. Sekaligus, mesti menyukseskan intensifikasi, ekstensifikasi, dan diversifikasi pangan berbasis pangan lokal.

Selain itu, Arif juga memaparkan upaya peningkatan ketersediaan pangan bisa dimaksimalkan melalui penurunan food loss and waste pada level on-farm, off-farm, hingga konsumen.

“Di sinilah pertanian presisi diperlukan untuk menekan food loss, dan perubahan perilaku konsumen untuk menekan food waste,” ungkapnya.

Dia menambahkan sistem pangan yang resilien atau tangguh juga memerlukan pendekatan ‘4 betters’. Yakni, better production, better nutrition, better environment dan better life.

“Kita harus memiliki, pertama, perencanaan pangan yang baik di tingkat nasional maupun daerah. Kedua, sistem cadangan pangan dan logistik yang tangguh. Ketiga, kemampuan recovery cepat pasca terjadinya aneka guncangan,” beber Arif.

Sistem pangan yang demikian, kata dia, tidak mudah terguncang oleh dinamika geopolitik, perubahan iklim, maupun ancaman bencana alam serta bencana buatan manusia. (Nurisma)

Tags
News
Komentar