BPJS Kesehatan Barabai

Proses Melahirkan Caesar Beres, Ayah 5 Anak di Hantakan HST Andalkan KIS

apahabar.com, BARABAI –  Warga Desa Alat Kecamatan Hantakan di Hulu Sungai Tengah (HST), Hanafi, pernah merasa…

Featured-Image
Hanafi dan kartu andalannya, KIS dari BPJS Kesehatan. Foto-Istimewa

apahabar.com, BARABAI –  Warga Desa Alat Kecamatan Hantakan di Hulu Sungai Tengah (HST), Hanafi, pernah merasa deg-degan. Pasalnya, sang istri tidak lagi bisa melahirkan normal alias harus dilahirkan Caesar.

Hal itu dirasakan Hanafi saat menanti kelahiran anak ke 3 dari 5 anaknya, sekitar 4 tahun yang lalu.

Lelaki yang berprofesi sebagai petani itu ingat betul ketika istrinya mau melahirkan.

Dini hari, sekitar pukul 4.00 Wita, cerita Hanafi, istrinya mengalami kontraksi. Lantas sesuai anjuran bidan, Hanafi membawanya ke RSUD H Damanhuri Barabai.

Hal itu dilakukan mengingat sang istri memiliki riwayat darah tinggi.

“Itulah yang paling berkesan dan tidak akan saya lupakan. Istri saya harus operasi untuk melahirkan  anak saya,” kata lelaki 45 tahun itu.

Terdaftar sebagai pemegang Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) membuat Hanafi tidak khawatir.

Hanafi dan keluarga merupakan peserta yang terdaftar pada segmen penerima bantuan iuran (PBI) dari Pemkab HST melalui program UHC atau jaminan kesehatan semesta.

“Jadi, dua kali melahirkan di puskesmas dan tiga kali di rumah sakit secara sesar. Semuanya dijamin oleh JKN-KIS. Tidak terbayang kalau kami tidak dijamin, biayanya pasti sangat mahal,” timpal Hanafi.

Selain digunakan untuk kelahiran tadi, Hanafi dan keluarga juga sering memanfaatkan pelayanan kesehatan lainnya menggunakan KIS yang mereka miliki itu.

“Kami juga sering periksa ke Puskesmas, anak saya juga pernah pakai KIS-nya di RS karena panas tinggi. Selain itu, istri saya juga rutin periksa gangguan pada matanya, dan alhamdulillah semua itu dijamin,” tutur Hanafi.

Sebelumnya Hanafi mengaku belum mengetahui bahwa dia terdaftar pada program yang digawangi BPJS Kesehatan ini.

“Kami sekeluarga langsung mendapatkan KIS ini dari Pembakal (Kepala Desa -red), kami juga tidak pernah merasa mendaftarkan diri, tetapi mungkin sudah langsung didaftarkan dari perangkat desa,” terang Hanafi.

Harapan besar bagi Hanafi agar JKN-KIS dapat bertahan dan menjadi andalan bagi masyarakat.

“Tentu tidak ingin program ini berhenti. Inginnya terus berlanjut dan menjamin kesehatan semua masyarakat Indonesia karena sangat bermanfaat dan membantu terutama seperti saya yang berkali-kali merasakan manfaatnya, dan nyata dijaminnya,” tutup Hanafi.

Komentar