Hot Borneo

Perjuangan Guru Honorer di Hampang Kotabaru, 7 Jam Berjalan Terobos Hutan

apahabar.com, KOTABARU – Menjalani profesi sebagai guru di pedalaman bukan hal mudah. Seperti kisah Dulatif, seorang…

Featured-Image
Dulatif bersama anak-anak Juhu Bincatan yang menempuh pendidikan di sekolah jauh Desa Muara Urie. Foto: Istimewa

apahabar.com, KOTABARU – Menjalani profesi sebagai guru di pedalaman bukan hal mudah. Seperti kisah Dulatif, seorang guru honorer di Kecamatan Hampang, Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Dulatif merupakan seorang guru honorer kelas jauh di RT 2 Juhu Bincatan, Desa Muara Urie. Untuk mencapai sekolah, pria berusia 26 tahun ini mesti berjalan kaki menerobos hutan selama berjam-jam.

Juhu Bincatan sendiri merupakan salah kawasan pedalaman di Pegunungan Meratus, serta berbatasan langsung dengan Hulu Sungai Tengah.

Tentu bukan jalanan datar saja yang dilintasi. Beberapa kilometer menuju sekolah, Dulatif mesti menanjak bukit maupun menuruni lembah.

Melintasi banyak sungai dengan jembatan bambu, juga sudah biasa. Kalau tidak tersedia jembatan, Dulatif mesti rela pakaian yang dikenakan basah teredam air sungai.

Setiap kali berangkat, Dulatif juga harus menggendong bekal dengan tas lanjung. Oleh karena bekal selama beberapa hari, sudah dipastikan bobot lanjung itu mencapai puluhan kilogram.

Meski demikian, Dulatif tak pernah merasa dipaksa. Selepas lulus kuliah kependidikan, kesempatan mengajar di kelas jauh atau cabang sekolah induk diterima dengan sukarela.

Di sekolah jauh tersebut, Dulatif mengajar 10 siswa kelas I hingga kelas V. Sedangkan siswa kelas VI biasanya melanjutkan ke sekolah induk.

Gaji Pas-pasan

Ironisnya perjuangan tersebut tidak sepadan dengan pendapatan. Dulatih hanya mendapat honor sebesar Rp800 ribu per bulan dari pemerintah.

Dengan gaji pas-pasan, Dulatif harus mengencangkan ikat pinggang bersama sang istri yang baru dinikahi sebulan lalu.

“Saya mengajar demi pendidikan adik-adik di Juhu. Sebelumnya banyak anak-anak yang tak bersekolah. Bahkan lulusan SD pun jarang,” papar Dulatif kepada apahabar.com, Sabtu (27/8).

Selain honor yang minim, bangunan kelas jauh di Juhu pun terbilang sederhana. Cuma bangunan satu pintu terbuat dari kayu, tanpa peralatan belajar dan mengajar memadai.

Berkaca dari kondisi itu, Dulatif yang biasa disapa Adul Juhu ini menaruh harapan besar pemerintah daerah agar memberikan perhatian khusus.

Tidak hanya perkembangan anak didik, juga guru honor yang mengabdi di kawasan terjauh, terpencil dan pedalaman.

Faktanya tidak semua tenaga pengajar bersedia ditempatkan di pedalaman yang sulit dijangkau transportasi, minim fasilitas dan gaji minim.

“Saya hanya berharap pemerintah daerah memiliki kebijakan untuk guru-guru honorer di pedalaman. Mungkin bisa diangkat langsung menjadi PNS,” harap Dulatif.

img

Dulatif berdiri di sebuah jembatan bambu yang menjadi satu-satunya akses menuju sekolah jauh di pedalaman Juhu. Foto: Istimewa

Komentar