Hot Borneo

Pekerja Lokal Bakal Tertinggal, Rocky Gerung: Negara Lain Take Off, Kita Sibuk Bertengkar soal Polisi

apahabar.com, BALIKPAPAN – Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) saat ini terus berlangsung. Megaproyek yang disebut-sebut mampu…

Featured-Image
Rocky Gerung saat berdiskusi persoalan ketenagakerjaan Kaltim. apahabar.com/Riyadi

apahabar.com, BALIKPAPAN - Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) saat ini terus berlangsung. Megaproyek yang disebut-sebut mampu menyerap 200 ribu pekerja ini tentu menjadi angin segar bagi masyarakat Kalimantan Timur.

Namun sebagian orang menyebut pekerja lokal kemungkinan akan tertinggal dan kalah saing dengan para pekerja dari luar daerah. Persoalan keterampilan hingga pengalaman kerja menjadi nilai saing bagi sebuah perusahaan yang akan merekrut tenaga kerja.

Analis Kebijakan Publik, Rocky Gerung turut angkat bicara mengenai persoalan ketenagakerjaan IKN. Menurutnya, pemerintah harus berperan aktif sedini mungkin mengembangkan para pemuda maupun pekerja-pekerja lokal. Sebab, ia mengatakan para pengusaha sedang resah jika dampak ekonomi yang ada hanya dirasakan bagi kalangan tertentu.

"Kalau trickle down itu hanya dinikmati bagi tenaga kerja yang terdidik dan terandal dan tersertifikasi dari Jawa, artinya tidak ada gunanya, ya mau ngapain,” ujarnya dalam diskusi lapangan kerja di Whiz Prime Hotel Balikpapan, Kamis (18/8).

“Kita optimis pada Ibu Kota Negara tapi pada akhirnya tenaga kerja yang tidak terididik dan kurang tersertifikasi di Kalimantan hanya jadi penonton terhadap hiruk pikuk Ibu Kota nanti," sambungnya.

Rocky melansir hasil analisis Organisasi Perburuhan Internasional atau ILO bahwa survei yang dilakukan oleh ILO juga terjadi di Kalimantan Timur. Yakni banyak usia muda pasca-pandemi minim keahlian. Bagaimana tidak, kurangnya pengembangan diri yang dilakukan dan peran dari pemerintah untuk memfasilitasi pekerja muda menjadi masalah tersendiri.

"Menurut ILO kira-kira 73 juta pemuda di seluruh dunia itu tidak punya pekerjaan setelah Covid itu selesai. Sekarang kita breakdown data itu, Indonesia berapa persen generasi 15 sampai 24 tahun pencari kerja yang tidak mendapat pekerjaan, pasti tinggi sekali," katanya.

Menurutnya masa krisis ekonomi ini menyebabkan banyak anak-anak berhenti sekolah. Sehingga kapasitas memajukan perekonomian lumpuh hingga 4 tahun mendatang lantaran kurangnya tenaga kerja yang terdidik.

"ILO memprediksi akan ada frustasi tenaga kerja baru. Di mana baru diterima kerja tapi diminta keahlian. Padahal masa Covid tidak ada keahlian, orang cuma tidur di rumah. Jadi untuk masuk kerja lagi, mentalnya sudah down. Istilahnya itu harapan lumpuh," jelasnya.

Rocky menyebut pemerintah Indonesia seharusnya mempersiapkan semuanya jauh sebelum pandemi melandai. Sehingga percepatan pemulihan ekonomi selaras dengan pengembangan tenaga kerja yang terdidik di Indonesia. Namun yang terjadi justru pemerintah terkesan lambat dibandingkan negara lain dalam melakukan percepatan pemulihan ekonomi.

Harusnya, sambung Rocky, ada fokus semacam persiapan take off dan re-take off setelah Covid selesai. “Malaysia ketika posisi ekonomi di 20 persen mereka langsung take off, dalam 2 menit take off-nya sudah 38 ribu kaki. Nah Indonesia take off-nya masih mundur sedikit. Karena kemampuan kita memberi harapan kepada publik itu enggak ada. Negara lain sudah siap untuk take off, lah kita siap apa, masih sibuk bertengkar soal polisi," pungkasnya.

Komentar