Kalsel

Pascabanjir Kalsel, Sekjen PBB Terjun Bagikan Bapok

apahabar.com, BANJARMASIN – Banjir terparah di Kalsel tahun ini menyita perhatian banyak kalangan. Tak salah hingga…

Featured-Image
Sekjen DPP PBB Afriansyah Noor membagikan bahan pokok kepada masyarakat korban banjir di Desa Lok Buntar, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Foto-Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN - Banjir terparah di Kalsel tahun ini menyita perhatian banyak kalangan.

Tak salah hingga kini bantuan pun terus mengalir.

Pascabanjir tersebut, air belum sepenuhnya turun. Banyak kawasan di daerah ini yang terendam. Salah satunya Desa Lok Buntar, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar.

"Banjir belum sepenuhnya reda. Kalau malam air naik lagi," ucap salah seorang warga ketika menyapa kehadiran petinggi Partai Bulan Bintang (PBB) yang hadir di tengah masyarakat menggunakan kelotok, Sabtu (6/2) petang.

Fakta ini tentu mengiris perasaan kader PBB yang dikomando Sekjen DPP PBB Afriansyah Noor ketika berada di kawasan yang masih banjir itu.

Bersama Ketua DPW PBB Kalsel, H Ismail Iberahim dan DPC setempat, Afriansyah seakan tak merasakan lelah menyusuri kawasan yang masih tergenang yang ketinggiannya nyaris menyentuh dengkul orang dewasa itu.

img

Rombongan Sekjen DPP PBB Afriansyah Noor bersama Ketua DPW PBB Kalsel, H Ismail Iberahim menggunakan kelotok menuju Desa Lok Buntar. Foto-Istimewa

Satu per satu warga ia sapa. Tak sekadar menyapa, Afriansyah Noor juga membagikan bahan pokok (bapok) dan nasi kotak kepada warga yang masih bertahan di kawasan banjir.

Kehadiran petinggi partai besutan Yusril Ihza Mahendra tentu disambut hangat masyarakat setempat. Apalagi mereka datang tidak dengan tangan kosong.

"Terima kasih atas bantuannya," ucap masyarakat sekitar sembari tersenyum.

Sekjen DPP PBB Afriansyah Noor yang juga membawa tokoh PBB, Yanuar Amnur, mengaku miris melihat kenyataan ini. Ia melihat ini bencana besar yang melanda Kalsel.

"Puluhan tahun tak pernah ada banjir sebesar ini," kata Afriansyah.

Menurutnya, musibah ini terjadi karena ulah manusia, membabat hutan dan mengeruk hasil bumi.

"Musibah ini akumulasi dari kerusakan alam," ujarnya. Atas dasar itu ia meminta ke depan pemerintah bisa memperhatikan faktor-faktor yang bisa menyebabkan banjir.

Banjir terparah di Kalsel tahun ini, patut jadi evaluasi pemerintah untuk melakukan penataan perizinan pertambangan.

"Kami hanya bisa berharap, musibah ini tak terulang lagi," pungkasnya. (*)

Komentar