Relax

Menilik Indonesia dari Lirik Lagu ‘Ojo Dibandingke’ yang Menggoyang Istana

apahabar.com, JAKARTA – Ada yang tak biasa dengan Upacara HUT RI di Istana Negara kali ini….

Featured-Image

apahabar.com, JAKARTA – Ada yang tak biasa dengan Upacara HUT RI di Istana Negara kali ini. Pasalnya, semua tamu undangan dibuat bergoyang dengan lantunan Ojo Dibandingke yang dibawakan Farel Prayoga.

Penyanyi cilik asal Banyuwangi itu menyanyikan lagu campur sari ini di hadapan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Sang presiden pun tak kuasa menahan tawa ketika mendengar modifikasi lirik, dari yang semula 'di hati ini hanya ada kamu' menjadi 'di hati ini hanya ada Pak Jokowi'.

Suara merdu bocah SD ini berhasil membuat seluruh tamu undangan, termasuk Ibu Negara Iriana Jokowi, berdendang melepas penat sesaat. Sampai-sampai, topik 'Istana Merdeka begoyang' ramai diperbincangkan netizen di media sosial.

Makna Lagu Ojo Dibandingke

Ojo Dibandingke sendiri merupakan lantunan campur sari gubahan seniman asal Boyolali, Jawa Tengah, bernama Abah Lala.

Lagu ini mengisahkan curahan hati seseorang yang merasa tak punya apa-apa untuk dibandingkan.

Hal itu terlihat dari liriknya, “Wong ko ngene kok dibanding-bandingke. Saing-saingke yo mesti kalah."

Artinya, 'orang sepertiku kok dibanding-bandingkan, disaing-saingkan, ya pasti aku kalah.'

Meski merasa tidak punya apa-apa, sosok ini memiliki rasa cinta yang besar. Dirinya meminta pengertian dari sang kekasih lantaran hanya bisa mencintai. "Ku berharap engkau mengerti, di hati ini hanya ada kamu," begitu bunyi liriknya.

Menurut sang pencipta, sebagaimana dikutip dari detikJateng, Ojo Dibandingke terinspirasi dari kisah percintaan temannya. Ketika hendak menikah, rupanya calon yang ingin dipersunting, dijodohkan dengan orang lain.

Dengan aransemen ringan dan tatanan suara khas campur sari, Ojo Dibandingke boleh dibilang mudah dinikmati para pendengar, sekalipun mereka yang tak akrab dengan genre campur sari.

Campur Sari dan 'Sobat Ambyar'

Popularitas lagu campur sari yang membuatnya digandrungi banyak kalangan, termasuk anak muda, sebenarnya bukanlah hal baru. Beberapa tahun silam, jenis lagu ini sempat naik daun berkat Didi Kempot.

Masih lekat dalam ingatan, betapa populernya lagu campur sari yang dibawakan penyanyi berjuluk Godfather of Broken Heart ini. Lirik dari lagu-lagunya dianggap relate dengan kisah percintaan anak muda masa kini. Tak ayal, istilah 'Sobat Ambyar' pun menyeruak di tengah kalangan milenial.

Fenomena tersebut berhasil mendobrak stigma yang menyatakan bahwa campur sari hanya dinikmati generasi terdahulu. Berkat eksistensi'Sobat Ambyar', jenis lagu ini boleh dibilang mulai merambah kaum milenial.

Sepak Terjang Campur Sari di Tanah Air

Jauh sebelum kemunculan Didi Kempot, campur sari rupanya memerlukan jalan panjang untuk benar-benar bisa diterima masyarakat seperti sekarang.

Istilah campur sari sendiri baru mulai menggema usai grup kesenian Campursari RRI Semarang mengisi siaran radio pada 1953.

Kala itu, popularitas campur sari hanya bersifat lokal lantaran tak semua rumah memiliki radio. Sebab itulah, lagu jenis ini sempat mengalami stagnasi.

Pada 1978, grup kesenian yang biasa melakukan siaran setiap hari rabu itu mulai berpikir untuk melebarkan sayapnya ke jangkauan yang lebih luas.

Mereka lantas bernaung pada IRA Record, label rekaman yang membantu Campursari RRI Semarang dalam merekam karya.

Sayangnya, karya-karya tersebut belum berhasil membuat campur sari dikenal luas oleh masyarakat.

Hingga pada 1990-an, muncul kreator musik bernama Sumanto Sugiartono, atau yang lebih dikenal Manthous.

Pria kelahiran 1950 ini mengkreasikan musik campur sari dengan gabungan instrumen musik barat, seperti keyboard, gitar, dan bass.

Dia juga mulai menggarap berbagai jenis musik, mulai dari langgam jawa, keroncong, sampai dangdut.

Kehadiran Manthous dalam industri musik boleh dibilang menjadi titik awal dikenal luasnya campur sari. Sejak saat itu, para pendatang baru terus bermunculan mengkreasikan langgam campur sari.

Campur Sari Menggoyang Istana

Kendati lirik laguOjo Dibandingkesarat akan suasana lirih, namun menilik kemeriahan yang digawangi oleh lenggok dan suara Farel Prayoga, membawa warna serta semangat baru bagi Indonesia.

Seluruh jajaran undangan perayaan HUT Kemerdekaan tampak hanyut ke dalam alunan nada. Menggambarkan musik campur sari sebagai identitas bangsa kian solid bahkan mampu merangkul seluruh kalangan. Mulai dari rakyat jelata hingga ke Istana Negara.(Nurisma)

Komentar