Pemkab Barito Kuala

Melimpah Stok, Harga Jeruk di Batola Anjlok

apahabar.com, MARABAHAN – Kolaborasi penyebaran Covid-19 dan panen raya, benar-benar memukul petani jeruk siam di Barito…

Featured-Image
Panen raya jeruk siam di Barito Kuala justru tidak dibarengi dengan keuntungan petani. Foto-Istimewa

apahabar.com, MARABAHAN – Kolaborasi penyebaran Covid-19 dan panen raya, benar-benar memukul petani jeruk siam di Barito Kuala.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, panen jeruk di Batola mencapai puncak antara Juni hingga Agustus. Biasanya dalam periode itu, petani memetik banyak keuntungan.

Terlebih konsumen yang disasar tidak cuma Kalimantan Selatan. Setidaknya dalam satu dekade terakhir, Batola menjadi pemasok jeruk ke kawasan lain di Kalimantan dan Jawa.

Faktanya dari produksi jeruk Kalimantan Selatan sebesar 109.099 ton per tahun, 80 persen di antaranya berasal dari Batola.

Namun seiring penyebaran Covid-19, rutinitas tersebut terganggu. Pengiriman ke kawasan lain tersendat-sendat hingga bahkan terhenti, karena pembatasan aktivitas di dermaga dan status Batola sebagai zona merah.

Di sisi lain, produksi jeruk Batola yang berasal dari Kecamatan Marabahan, Belawang, Rantau Badauh, Barambai, Cerbon dan Wanaraya, tidak terlihat menurun. Terlebih intensitas serangan hama dan penyakit cuma 4 persen.

Imbasnya harga pun menjadi bulan-bulanan akibat penumpukan. Jeruk kategori grade A yang biasanya dijual petani seharga Rp8.000 sampai Rp9.000 per kilogram, sekarang anjlok menjadi hanya Rp3.500.

“Dengan harga semurah itu pun, pembeli masih kurang. Ironisnya kondisi harga di semua pasar kurang lebih sama,” papar Sugiran, salah seorang petani jeruk di Wanaraya.

Menghadapi situasi tersebut, petani berharap pemerintah dapat turun tangan lantaran pandemi sudah menjadi bencana nasional.

“Efek Covid-19 membuat banyak petani jeruk tidak bisa mengirim hasil kebun mereka. Tentu kami berharap instansi terkait dapat mencarikan solusi terbaik,” sahut Endang Sudrajat, Kepala Desa Kolam Kanan, Jumat (24/7).

“Misalnya berkoordinasi dengan pabrik-pabrik yang memerlukan asupan jeruk. Atau berkoordinasi dengan kabupaten dan provinsi lain untuk pemasaran,” tandasnya.

Dalam proses pemasaran yang sudah lama berlangsung, petani di Batola banyak mengandalkan pengumpul dibanding langsung berhubungan dengan konsumen.

Penyebabnya pola ini cukup efesien lantaran petani tidak mengeluarkan untuk biaya angkut. Biasanya pedagang pengumpul yang langsung mengambil jeruk ke kebun.

Editor: Muhammad Bulkini

Komentar