News

Maksimalkan Potensi EBT, CPI: Pengembangan EBT Jangan Asal-asalan!

apahabar.com, JAKARTA – Peneliti Climate Policy Initiative (CPI) Albertus Prabu Siagian mengingatkan ada beberapa aspek yang…

Featured-Image
Ilustrasi Energi Baru Terbarukan. Foto: iStock

apahabar.com, JAKARTA – Peneliti Climate Policy Initiative (CPI) Albertus Prabu Siagian mengingatkan ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangan potensi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang sedang gencar didorong oleh pemerintah.

"Ada banyak aspek yg harus diperhatikan, yang pertama ada potensi geografis, sifat nya given faktor alam, pembangkit listrik tergantung keunikan negara tertentu," katanya dalam diskusi publik Merdeka dari Energi Fosil yang disiarkan secara daring, Kamis (18/8).

Selain potensi Indonesia secara geografis perlu diperhatikan juga faktor lain, seperti kesiapan tenaga kerja yang harus dipastikan mencukupi. Salah satunya melalui ketersediaan program pendidikan terkait EBT di Politeknik maupun Universitas.

Albertus juga mengatakan untuk mengawasi kesiapan kapasitas manufaktur seperti bahan baku, komponen yang dibutuhkan perlu dipertimbangkan seperti akan dilakukannya impor atau produksi secara mandiri. Ia juga mengatakan untuk memperhatikan juga dari aspek infrastruktur pembangkit EBT.

"Dukungan infrastruktur misalkan transmision in distribusion cukup. Kita kan juga tidak asal, penyimpanan energinya juga harus diperhatikan karena namanya juga terbarukan, itu kan kadang ada kadang tidak. Seperti angin atau sinar matahari, jadi harus kita perhatikan untuk stabilisasi sistem," terang Albertus.

Lebih lanjut, kata Albertus faktor keuangan tidak kalah penting. Dana yang akan digunakan berasal dari pemerintah ataupun swasta harus di perhatikan. Adapun jika dana yang digunakan pemerintah, perlu memastikan kecukupan penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sedangkan, jika didanai swasta, insentifnya harus menarik bagi swasta.

"Terakhir, faktor permintaan karena ketika kita bicara potensi EBT nya besar atau tidak cukup atau tidak, itu semua sifatnya relatif terhadap permintaannya itu sendiri. Jadi itu juga yang harus kita pikirkan," pungkasnya. (Resti)

Komentar