Pemkab Hulu Sungai Tengah

Lima Desa di Meratus HST Kini Dilengkapi Radio Amatir

apahabar.com, BARABAI – Lima Desa di Pegunungan Meratus Hulu Sungai Tengah (HST) kini telah dilengkapi radio…

Featured-Image
Bupati HST Aulia Oktaviandi didampingi Dandim 1002, Pj Sekda dan Direktur Eksekutif Walhi menandatangani prasasti tanda diresmikannya EWS di HST, Sabtu (22/1). Foto-apahabar.com/Istimewa.

apahabar.com, BARABAI – Lima Desa di Pegunungan Meratus Hulu Sungai Tengah (HST) kini telah dilengkapi radio amatir sebagai Erly Warning System (EWS).

EWS berbasis radio amatir ini digunakan untuk mengurangi resiko dan dampak bencana alam. Misalnya, untuk menginformasikan cuaca maupun debit air.

Karena itu, wilayah itu mendapatkan bantuan berupa repeter, radio reg dan handy talky. Pasalnya, desa-desa itu merupakan daerah yang berada di hulu Sungai Barabai atau DAS.

Ke 5 desa itu yakni, Patikalain, Datar Ajab, Hinas Kanan, Alat, Batu Tunggal dan Baru-Waki. Sementara Radio Pancar Ulang Haur Kuning ditempatkan di Objek Wisata Pagat Batu Benawa.

EWS dari Walhi Kalsel itu diresmikan langsung oleh Bupati HST, H Aulia Oktafiandi yang ditandai dengan penandatanganan prasasti di Objek Wisata Pagat, Sabtu (22/1) sore.

Kata Bupati Aulia, EWS itu menciptakan komunikasi perkembangan cuaca antar desa. Dari komunikasi itulah pihak lainnya memperoleh informasi, baik soal cuaca dan debit air.

“Ini membantu meminimalkan dampak dan resiko banjir. Masyarakat bisa siaga mengamankan barang, mengamankan diri, sehingga tidak ada yang menjadi korban. Pemerintah daerah juga bisa melakukan langkah-langkah penanganan,” kata Aulia.

“Terima kasih Walhi Kalsel dan UNDP turut mendukung antisipasi dan pencegahan risiko bencana,” tutup Aulia.

Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono memyebutkan EWS itu hasil kerja sama dengan United Nations Development Programme (UNDP) atau program pembangunan Perserikatan Bangsa Bangsa. Ditujukan untuk daerah rawan bencana seperti banjir.

“Keberadaan EWP ini penting bagi masyarakat untuk meminimalkan risiko bencana. Para relawan di lapangan akan menginformasikan hal-hal yang dianggap penting melalui radio amatir,” tutup Kisworo.

Komentar