Relax

Lambang Negara Indonesia Ternyata Terinspirasi dari Mitologi Hindu, Begini Kisahnya

apahabar.com, JAKARTA – Pada 10 Januari 1950, Pemerintah Indonesia membentuk sebuah panitia untuk membahas rancangan lambang…

Featured-Image

apahabar.com, JAKARTA - Pada 10 Januari 1950, Pemerintah Indonesia membentuk sebuah panitia untuk membahas rancangan lambang negara. Panitia Lencana Negara, begitu namanya, berada di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Portofolio pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS), Sultan Hamid II.

Pemerintah, yang sebelumnya mengadakan sayembara, menerima banyak ide mengenai rancangan lambang negara. Namun, hanya karya Sultan Hamid II dan Muhammad Yamin saja yang dipilih untuk dipertimbangkan lebih lanjut.

Pemerintah dan DPR akhirnya menerima rancangan milik Sultan Hamid II, sebagaimana dituturkan Muhammad Hatta dalam Bung Hatta Menjawab. Karya milik Yamin ditolak lantaran menyertakan sinar-sinar matahari, yang dinilai mirip bendera Jepang kala itu.

Adapun usulan lambang negara yang diajukan oleh Sultan Hamid II berbentuk burung garuda dengan mencekram perisai berlambangkan lima sila Pancasila. Wujud burung itu menyerupai figur Garuda dalam agama Hindu.

Ya, Garuda sejatinya adalah makhluk mitos yang tertulis dalam kitab Mahabharata dan Purana dari India. Mitos ini juga terkenal melalui cerita rakyat hingga relief yang banyak dijumpai pada berbagai candi di Indonesia.

Lantas, seperti apa kisah Garuda yang membuat para pendiri bangsa mengadopsinya sebagai lambang negara? Merangkum berbagai sumber, berikut ulasannya.

Mitologi Garuda dalam Agama Hindu, Rela Berkorban demi Selamatkan sang Ibu

Dalam khasanah agama Hindu, Garuda merupakan burung gagah perkasa yang menjadi tunggangan Dewa Wisnu. Makhluk ini digambarkan bertubuh emas, berwajah putih, dan bersayap merah. Paruh serta sayapnya menyerupai elang, namun tubuhnya seperti manusia.

Bagian pertama kitab Mahabharata menuturkan bahwa Garuda adalah anak dari Begawan Kasyapa. Lantaran tak kunjung mendapat momongan, dirinya memberikan 1.000 telur kepada istri pertama, Sang Kadru, dan dua telur lainnya untuk istri kedua, Sang Winata.

Tak lama kemudian, telur-telur milik Sang Kadru menetas menjadi 1.000 naga. Sedangkan, telur Sang Winata menetas menjadi burung yang kemudian diberi nama Aruna dan Garuda.

Suatu ketika, Winata kalah bertarung dengan Kadru. Karena dicurangi, Winata harus menjadi budak dari 1.000 ekor naga. Mengetahui hal ini, Garuda yang konon adalah anak berbakti, merasa tak terima dengan perlakuan Kadru dan para naga.

Dengan amarah yang meluap, Garuda menyerang para naga. Pertempuran sengit berlangsung dalam kurun waktu cukup lama. Sampai akhirnya, naga-naga itu bersedia memberikan pengampunan kepada Winata asalkan Garuda membawakan air kehidupan milik dewa.

Sebagai anak berbakti, Garuda tak berpikir dua kali itu menyanggupi permintaan tersebut. Di tengah perjalanan menuju khayangan untuk memperoleh air kehidupan, Garuda bertemu dengan Dewa Wisnu. Sang dewa mempertanyakan alasan burung besar itu pergi ke khayangan.

Setelah mendengar penjelasan Garuda, Dewa Wisnu berjanji akan memberikan air kehidupan dengan syarat burung besar itu bersedia menjadi tunggangannya. Garuda pun kembali untuk membebaskan ibunya usai mendapatkan air kehidupan.

Namun, sebelum diberi kepada para naga, Dewa Indra mengambil air kehidupan yang ditaruh di atas alang-alang itu. Saat diambil, percikan masih tersisa di atas alang-alang, sehingga para naga pun berebut sampai membelah lidahnya.

Semangat Garuda Jadi Inspirasi Lambang Negara

Semangat Garuda yang dituturkan dalam kitab Mahabharata itu menjadi salah satu alasan dipilihnya burung garuda sebagai lambang negara. Kegigihan Garuda untuk membebaskan ibunya dari belenggu perbudakan diadopsi oleh para pendiri bangsa.

Indonesia dirasa memiliki kesamaan nasib dengan Garuda. Keduanya sama-sama berjuang untuk membebaskan orang tercinta - dalam hal ini rakyat - dari penindasan. Garuda bermakna sebagai simbol pembebasan ibu pertiwi dari belenggu perbudakan dan penjajahan.

Dalam prosesnya sendiri, rancangan Sultan Hamid II tidak serta merta diterima begitu saja. Karyanya terus mendapat perbaikan, salah satunya mengganti pita merah putih yang dicengkram garuda menjadi pita putih dengan semboyan bertuliskan Bhineka Tunggal Ika.

Dengan lambang gagah perkasa, para founding fathers berharap Indonesia akan menjadi bangsa besar yang bebas menentukan nasib dan masa depannya sendiri, sebagaimana kegagahan burung Garuda dalam mitologi. (Nurisma)

Komentar