Hot Borneo

KPK Tahan Konsultan Pajak PT Jhonlin Baratama

apahabar.com, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan konsultan pajak PT Jhonlin Baratama, Agus Susetyo. Selain…

Featured-Image
Kantor KPK. Foto-net

apahabar.com, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan konsultan pajak PT Jhonlin Baratama, Agus Susetyo.

Selain Agus, KPK juga menahan Veronika Lindawati kuasa pajak PT Bank PAN Indonesia (Panin) Tbk.

Agus dan Veronika merupakan tersangka pemberi suap kepada sejumlah pejabat di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) 2016-2017.

Kini, KPK menahan keduanya di Rumah Tahanan (Rutan) Polda Metro Jaya untuk 20 hari ke depan.

Keduanya tampak di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Kamis (25/8) sore, mengenakan rompi tahanan KPK warna oranye dengan tangan diborgol.

“Untuk keperluan proses penyidikan, VL (Veronika Lindawati) dan AS (Agus Susetyo) dilakukan upaya paksa penahanan oleh tim penyidik selama 20 hari pertama terhitung sejak 25 Agustus 2022 sampai dengan 13 September 2022 di Rutan Polda Metro Jaya,” ujar Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Karyoto kepada wartawan, Kamis (25/8).

Agus dan Veronika disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor).

Dilansir cnnindonesia, kasus bermula ketika pada September 2017 PT Bank Panin mendapat pemberitahuan mengenai pemeriksaan pajak untuk tahun pajak 2016 dari Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan (P2) pada Ditjen Pajak.

Ahmad Hidayat selaku Direktur Keuangan PT Bank Panin memberikan kuasa pada Veronika yang notabene juga menjabat sebagai Komisaris Panin Investment untuk bertemu dengan tim pemeriksa pajak.

Pada Juli 2018, Veronika menemui Wawan Ridwan, Alfred Simanjuntak, Yulmanizar danFebrian di Gedung Ditjen Pajak dan meminta agar besaran nilai Surat Ketetapan Pajak (SKP) PT Bank Panin di tahun 2016 bisa dikondisikan menjadi kurang bayar hanya sebesar Rp300 miliar.

Veronika menjanjikan pemberian sejumlah uang berupa fee sebesar Rp25 miliar pada tim pemeriksa pajak yang diinformasikan melalui Yulmanizar.

Yulmanizar kemudian melaporkan tawaran tersebut kepada Wawan Ridwan dan Dadan Ramdani untuk diteruskan kepada Angin Prayitno Aji selaku Direktur P2 Ditjen Pajak agar keinginan Veronika bisa segera ditindaklanjuti.

Angin diduga menyetujui dan memerintahkan Dadan, Wawan, Alfred, Yulmanizar dan Febrian untuk mengondisikan Surat Ketetapan Pajak (SKP) PT Bank Panin sesuai permintaan Veronika.

“Atas terbitnya SKP tersebut, dari Rp25 miliar yang dijanjikan di awal oleh VL baru disanggupi hanya sebesar Rp5 miliar dengan penyerahan tunai melalui Wawan Ridwan,” tutur Karyoto.

Sementara itu, PT Jhonlin Baratama yang merupakan anak usaha Jhonlin Group milik Samsudin Andi Arsyad alias Haji Isam turut terlibat dalam rekayasa pajak.

Agus Susetyo ditugaskan oleh Direktur Keuangan PT Jhonlin Baratama Fahruzzaini untuk mengurus proses pemeriksaan lapangan tahun pajak 2016 dan 2017.

Sekitar Maret 2019, Agus menyambangi Gedung Ditjen Pajak dan menemui tim pemeriksa pajak yang terdiri dari Dadan, Wawan, Alfred, Yulmanizar dan Febrian.

Agus meminta agar PT Jhonlin Baratama diturunkan besaran nilainya dan nantinya akan memberikan uang fee sebesar Rp50 miliar.

Wawan dan Dadan selanjutnya melaporkan permintaan tersebut pada Angin dan disetujui.

Sesuai perintah Angin, tim pemeriksa kemudian kembali mengondisikan hasil pemeriksaan pajak PT Jhonlin Baratama. Untuk tahun pajak 2016 diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) sebesar Rp70 miliar dan untuk tahun pajak 2017 diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) sebesar Rp59,9 miliar.

“Dari komitmen AS sebesar Rp50 miliar, yang direalisasikan hanya Rp40 miliar,” ucap Karyoto.

“Dengan pembagian yaitu Rp35 miliar diberikan secara bertahap bertempat di Gedung Ditjen Pajak yang diterima langsung Wawan Ridwan sebagai perwakilan dari Angin Prayitno Aji, Dadan Ramdani, Alfred Simanjuntak, Yulmanizar, dan Febrian,” sambungnya.Agus turut mendapat bagian sebesar Rp5 miliar.

Sekadar mengingatkan, dalam perkara ini, KPK menetapkan delapan tersangka. Mereka yakni, mantan Direktur Pemeriksaan dan Penagihan Ditjen Pajak Angin Prayitno Aji, bekas Kepala Sub Kerja Sama dan Dukungan Pemeriksaan Ditjen Pajak Dadan Ramdani.

Kemudian, konsultan pajak PT Gunung Madu Plantations Ryan Ahmad Ronas (RAR) dan Aulia Imran Maghribi (AIM), kemudiam Agus Susetyo dan Veronika Lindawati (VL). Selanjutnya, mantan Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Bantaeng Sulawesi Selatan Wawan Ridwan (WR) dan eks Fungsional Pemeriksa Pajak pada Kanwil DJP Jawa Barat II Alfred Simanjuntak.

Komentar