News

Keresahan Supir Angkot: Setoran Naik, Tarif Tak Kunjung Naik!

apahabar.com, JAKARTA – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi usaha angkutan umum (Angkot) di sejumlah…

Featured-Image
Suasana aktivitas angkot di jalan raya. Foto: Pikiran Rakyat

apahabar.com, JAKARTA - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi usaha angkutan umum (Angkot) di sejumlah wilayah. Para supir angkot mengeluh, kenaikan harga BBM subsidi membuatnya harus pengeluaran semakin bertambah. Terlebih juga diperuntukan biaya setoran angkot kepada pemilik angkot.

"Ini merugikan setoran jadi naik. Sementara ini setoran Rp150.000 sekarang jadi Rp170.000 sehari. Kalau tidak begitu mana bisa nanti yang punya mobil buat bekerja," keluh Marco Sidabutar supir angkot No.02 dengan trayek Terminal Depok Lama-Depok Dua saat ditemui apahabar.com, Depok Jawa Barat, Rabu (7/9/2022).

Marco mengungkapkan penghasilan kotor yang dia peroleh dalam sehari dalam kisaran Rp300.000 sampai Rp400.000. Penghasilan tersebut belum termasuk dipotong untuk membayar setoran.

"Jarak jauh sementara Rp5.000 ini belum ada keputusan dari (Organda) Organisasi Angkutan Darat. Paling nanti jatuhnya Rp7.000. Tadinya kita isi Pertalite dari Rp100.000 itu sudah dapat 13 liter sekarang jadi cuma dapet 10 liter," ucap Marco.

Para supir angkot masih menunggu langkah dari Organda untuk menentukan tarif yang akan diberlakukan, supaya tidak menaikan harga tarif secara sepihak kepada pengguna angkot.

"Jarak deket belum berubah masih 4 rebu kalo untuk pelajar 2 ribu, kalo dari Organdanya naik paling cuma naik seribu," jelas Tamjis selaku supir angkot No.03 trayek Roxy-Benhil, Jakarta Pusat.

Menurut Tamjis pengeluaran dalam sehari akan bertambah untuk membayar setoran kepada pemilik mobil angkot yang tarifnya ikut naik setelah harga BBM naik. Dia pun mengkhawatirkan ketika tarif angkot ikut dinaikan, maka orang akan berubah pikiran untuk tidak naik angkot.

"Belum buat bayar setoran sebelum BBM naik setoran 120.000 rupiah, sekarang udah naik jadi 140.000 rupiah. aUntuk smenetara pengguna belum ada kenaikan atau penurunan tapi kalo harga angkot naik ya ga tau mereka akan berubah pikiran atau enggak," kata Tamjis.

Tidak berbeda dengan keluhan Sinwani, supir angkot No.41 dengan trayek Cibinong-Gandaria, bahwa efek pandemi akibat Covid-19 saja sudah memengaruhi pendapatan supir angkot karena makin sedikit orang yang bepergian menggunakan angkutan umum. Ditambah dengan kenaikan harga BBM, dikhawatirkan akan menambah beban pengeluaran para supir angkot.

"Sekarang peminatnya kan udah sedikit banyak yang naik motor atau ojek online. Efek pandemi juga orang tidak mau jalan keluar, sekarang tambah lagi BBM naik," pungkasnya.

Reporter: Resti

Komentar