Relax

Kenali Verbal Bullying Berkedok ‘Jangan Baper’, Dampaknya Bisa sampai Bunuh Diri

apahabar.com, JAKARTA – “Jangan baper.” Begitulah kata-kata pamungkas yang dilontarkan seseorang manakala lawan bicaranya merasa tersinggung….

Featured-Image
Ilustrasi tindak verbal bullying (Foto: BRIM)

apahabar.com, JAKARTA"Jangan baper." Begitulah kata-kata pamungkas yang dilontarkan seseorang manakala lawan bicaranya merasa tersinggung. Alih-alih meminta maaf, orang itu malah berlindung di balik istilah tertentu untuk membenarkan tindakannya.

Istilah baper, akronim dari bawa perasaan, kini menjadi senjata andalan untuk megaburkan batasan antara guyonan dan perundungan. Seringkali, ketika seseorang mengaku merasa tersinggung, dirinya malah tambah dicibir karena dianggap berlebihan.

Padahal, dalam kacamata psikologi, baper yang istilah ilmiahnya disebut Highly Sensitive Person (HSP) merupakan hal lumrah. Mengutip buku The Highly Sensitive Person (1997), Elaine Aron mendefinisikan orang dengan HSP lebih peka terhadap hal-hal kecil di sekelilingnya.

Mereka lebih mudah merasa kewalahan ketika berada di lingkungan yang menstimulasi indera. Tentu saja, tak ada yang salah dengan perilaku HSP, mengingat ini tidak merugikan orang lain. Justru, HSP berdampak buruk bagi diri sendiri, sebab membuat orang yang mengidapnya merasa tertekan dan overthinking.

Batasan antara Bercanda dan Bullying

Psikolog dari Klinik Personal Growth, Veronica Adesla, menyebut terdapat pembeda yang jelas antara kedua hal tersebut.

Menurutnya, interaksi baru bisa dibilang bercanda apabila semua pihak senang dan menikmati obrolan tanpa merasa tersakiti. Sebaliknya, interaksi termasuk bullying jika ada salah satu pihak yang tersinggung.

Lebih lanjut, Veronica menilai bullying sebagai manifestasi konsep diri yang negatif. Pelaku biasanya ingin dihormati, namun merasa tidak memiliki kompetensi atau kelebihan. Alhasil, mereka mengintimidasi orang lain.

"Perilaku yang menyakiti perasaan emosional dengan menghina, mengejek, mengeluarkan kata-kata kotor, itu bukan bercanda. Itu bullying," tegasnya, dikutip dari detikHealth, Rabu (14/9/2022).

Verbal Bullying Lebih Bahaya Ketimbang Kekerasan Fisik

Psikolog Klinis, Liza Marielly, mendefinisikan verbal bullying sebagai bentuk penindasan yang dilakukan menggunakan kata-kata, pernyataan, atau julukan tertentu yang berkonotasi ingin menghina. Menurutnya, jenis perundungan ini lebih berbahaya ketimbang kekerasan fisik.

Senada dengan hal itu, The Mind Fool menuliskan perundungan dengan kata menyakitkan dapat menghancurkan korbannya. Sebab, ini bisa meninggalkan luka emosional mendalam, bahkan sama menghancurkannya dengan intimidasi fisik.

Itulah sebabnya, verbal bullying tak sekadar merusak kesehatan mental seseorang, melainkan bisa sampai berujung bunuh diri. Korban perundungan jenis ini cenderung menyakiti diri sendiri lantaran merasa tak berharga lagi di mata si penindas.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menunjukkan bahwa korban perundungan verbal memiliki dampak jangka panjang terhadap masalah fisik, sosial, emosional, hingga akademis.

Verbal Bullying bisa Memicu Depresi

Melansir laman bullyingstatistic.org, verbal bullying dapat memengaruhi citra diri seseorang, emosi, serta kondisi psikologis. Intimidasi verbal juga bisa membuat percaya diri seseorang menurun, bahkan sampai mengarah pada depresi.

Depresi biasanya dipicu rasa tertekan akibat kata-kata atau sebutan menghina yang dilontarkan pelaku perundungan. Mereka yang mengalami kondisi ini cenderung terlihat murung, sedih, putus asa, mudah marah, serta kehilangan minat yang semula sangat digemarinya.

Korban verbal bullying juga kerap merasa gelisah yang berujung menangis tiba-tiba. Pasalnya, mereka merasa tidak aman dan takut, terlebih jika harus bertemu dengan sang perundung. Bahkan, pada kasus yang lebih ekstrem, korban verbal bullying merasa ingin mengakhiri hidupnya.

Memang sebegitu parah dampak verbal bullying bagi korban. Oleh karena itu, sebisa mungkin, jagalah lisan ketika berbicara dengan siapa pun. Pikirkan baik-baik sebelum menyampaikan ke orang lain. Sebab, boleh jadi hal-hal sepele bagi Anda adalah guyonan, namun belum tentu orang lain beranggapan demikian. (Nurisma)

Komentar