Hot Borneo

Kasus Korupsi Terminal Kilometer 6, Kejari Banjarmasin Tetapkan Tersangka Baru

Kejaksaan Negeri (Kejari) Banjarmasin menetapkan tersangka baru dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi proyek pembangunan fisik Terminal Kilometer 6

Featured-Image
Kejari Banjarmasin menahan MFJ yang merupakan team leader konsultan pengawas proyek Terminal Kilometer 6. Foto: Kejari Banjarmasin

apahabar.com, BANJARMASIN - Kejaksaan Negeri (Kejari) Banjarmasin menetapkan tersangka baru dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi proyek pembangunan fisik Terminal Kilometer 6 Banjarmasin.

Tersangka baru dalam proyek tahun anggaran 2014 tersebut berinisial MFJ. Pria berusia 50 tahun ini merupakan team leader dari konsultan pengawas proyek.

"MFJ ditetapkan sebagai tersangka, sekaligus penahan dilakukan di Rutan Polresta Banjarmasin, Senin (14/11)," papar Kasi Intel Kejari Banjarmasin, Dimas Purnama Putra, Rabu (16/11).

Penetapan tersangka dilakukan setelah terpenuhi alat bukti permulaan yang ditemukan penyidik Kejari Banjarmasin, seusai menindaklanjuti Putusan Mahkamah Agung RI No. 1842 K/Pid.Sus/2019 tertanggal 15 Juli 2019 atas nama terpidana Fahmi Nurrahman.

Dalam putusan itu disebutkan pihak-pihak yang bersalah bukan hanya penyedia barang dan jasa, pengguna anggaran, pejabat pembuat komitmen, pelaksanaan teknis, hingga konsultan pengawas.

"Hakim dalam putusan berpendapat bahwa konsultan pengawas termasuk pihak yang bersalah. Atas dasar putusan itu, kami melakukan penyidikan," jelas Dimas.

MFJ bukan orang pertama yang terseret dalam perkara rasuah proyek pembangunan Terminal Kilometer 6 Banjarmasin dengan kerugian negara senilai Rp1,6 miliar.

Sebelumnya tiga orang telah menjadi terpidana, setelah terbukti melakukan penurunan spesifikasi bangunan.

Salah seorang di antaranya adalah eks Kepala Dinas Perhubungan Banjarmasin berinisial K. Pria ini divonis 4 tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider 4 bulan penjara oleh Mahkamah Agung.

Kemudian dua terpidana lain adalah Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) berinisial MH dan kontraktor FN. Mereka divonis 4 tahun penjara dan denda Rp50 juta, serta uang pengganti Rp666 juta. Apabila tak dibayarkan, diganti pidana kurungan 2 tahun.

Editor
Komentar