News

Kebocoran Data SIM Card Indonesia, Kominfo Akui 20 Persen NIK Cocok

apahabar.com, JAKARTA – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengakui kemiripan data registrasi SIM card yang dijual…

Featured-Image
Akun Bjorka yang mengklaim memiliki 1,3 miliar data registrasi kartu SIM Indonesia. Foto: Antara

apahabar.com, JAKARTA – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengakui kemiripan data registrasi SIM card yang dijual di forum gelap dengan informasi riil.

Sebelumnya user BreachForums (breached.to) bernama Bjorka, mengklaim punya 1,3 miliar data registrasi kartu SIM dengan kapasitas 87GB.

Bjorka membanderol data yang dijual di situs gelap tersebut dengan harga 50 ribu dolar (sekitar Rp744 juta), sambil menyertakan sampel data sebanyak 2GB.

Adapun nama provider yang disebutkan telah bocor mencakup Telkomsel, 3 (Tri), Indosat, XL dan Smartfren. Bjorka juga sempat membocorkan data diduga 26 juta pelanggan IndiHome.

Temuan ini dikonformasi Chairman Communication & Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha.

Tercatat setengah sampel data yang dibagikan Bjorka terbukti valid, karena nomor-nomor kontak tersebut bisa ditelepon.

Terkini berdasarkan hasil rapat koordinasi antara Kominfo dengan sejumlah stakeholder, Senin (5/9), ditemukan kemiripan data registrasi SIM card yang dijual di forum gelap dengan informasi riil.

Baca juga:1,3 Miliar Data Registrasi Kartu SIM Indonesia Bocor, Warganet Serbu Kominfo

“Semua melaporkan bahwa data yang bocor tidak sama, tetapi ditemukan beberapa kemiripan,” ungkap Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan, seperti dilansir CNN.

“Berdasarkan penelusuran sampel, kecocokan data Nomor Induk Kependudukan (NIK) hingga 20 persen. Terdapat juga kecocokan data hanya 9 persen aja,” imbuhnya tanpa merinci lebih jauh.

Meski tak sepenuhnya data riil, Kominfo memastikan masih melakukan penelusuran bersama operator telekomunikasi, Dirjen Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil), Cyber Crime Polri, serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

“Disepati akan dilakukan investigasi lebih dalam lagi, karena kadang-kadang hacker tak memberikan data selengkapnya biar bisa melakukan mitigasi dan pengamanan,” tutur Semuel.

Tags
News
Komentar