News

Jembatan Paringin Retak, Warga Tabalong dan HSU Waswas

apahabar.com, TANJUNG – Retaknya Jembatan Paringin membuat waswas warga daerah tetangga. Mereka kuatir jalan yang kini…

Featured-Image
Sebagian warga Tabalong dan Hulu Sungai Utara menolak pengalihan arus imbas dari retaknya Jembatan Paringin. apahabar.com/Hendry

apahabar.com, TANJUNG – Retaknya Jembatan Paringin membuat waswas warga daerah tetangga. Mereka kuatir jalan yang kini mulus kembali rusak akibat lalu lalang angkutan berat.

Jembatan Paringin merupakan infrastruktur penghubung Provinsi Kalimantan Selatan dengan Kalimantan Timur. Bahkan juga Kalimantan Tengah.

Sedianya jembatan tersebut juga rusak beberapa bulan lalu, namun telah diperbaiki oleh Balai Jalan dengan anggaran senilai Rp3 miliar. Tak lama berselang, lantai Jembatan Paringin kembali rusak, bahkan sebagian semen cor berguguran ke Sungai Balangan.

Kini, angkutan berat sudah tidak lagi diperbolehkan melintas mengantisipasi insiden. Pantauan terbaru apahabar.com, mulai Senin (29/8) pengalihan arus diberlakukan.

Di sekitaran bundaran Paringin, telah terpasang baliho larangan bagi kendaraan roda enam atau lebih dengan ketinggian maksimal 3 meter melintas.

Lihat video selengkapnya: Catat, Truk Dilarang Melintas Jembatan Paringin

Sebab keretakan jembatan itu, akses mereka dialihkan ke arah Amuntai. Aris, seorang pengendara asal Tabalong merasa was-was.

Ia kuatir rusaknya jembatan berimbas pada kembalinya lalu lalang angkutan berat dari Tabalong ke Hulu Sungai Utara (HSU).

“Kalau pengalihan itu terjadi, jalan kota Tanjung hingga perbatasan HSU kembali rusak,” tuturnya, Senin siang (29/8).

Saat ini, sepanjang jalan Tanjung hingga ke perbatasan Amuntai telah mulus pasca-perbaikan imbas kerusakan akibat dilalui angkutan berat khususnya truk semen.

“Jangan sampai kembali rusak dan mengganggu pengguna jalan umum yang lain,” imbuhnya.

Aris berharap jangan ada lagi pengalihan arus lalu lintas ke jalan Kota Tanjung-HSU. Jika bisa, tetap melewati jalan alternatif di Balangan.

“Kerusakan yang ditimbulkan mesti menjadi tanggung jawab pihak-pihak angkutan berat itu,” ujarnya.

“Kasian kami sebagai warga yang baru menikmati jalan mulus ke HSU jika angkutan berat kembali lagi melintas di sana,” sambungnya.

Catat, Truk Dilarang Melintas di Jembatan Paringin!

Senada Aris, warga HSU juga menolak pengalihan arus angkutan berat di wilayah mereka.

“Dalam tempo 1 minggu saja diperkirakan jalan di Amuntai akan rusak jika dilewati angkutan berat di jalan bukan kelasnya,” kata Ketua Relawan ‘Brigade 08’ HSU, Emma Rivilia, kepada apahabar.com.

Menurut Emma, pihaknya juga sudah mulai membicarakan hal tersebut dengan sejumlah masyarakat di HSU.

“Malam tadi kami sudah berkumpul membicarakan pengalihan arus tersebut, masyarakat menolak itu,” ungkapnya.

“Jika dialihkan jangan ke jalan Amuntai, selain HSU jalan Tanjung-Kelua akan kena imbasnya juga. Selain itu di sana arus lalu lintas juga padat,” sebut Emma.

Emma berharap pengalihan arus tetap di wilayah Balangan saja. Saat menggunakan jalan, pihak angkutan baiknya selalu rutin memperbaiki sebelum kerusakan terjadi.

“Bila tetap dialihkan di jalan alternatif di Balangan, jika rusak fokus pemerintah untuk memperbaiki di sana saja. Jika lewat Kota Tanjung-HSU akan kembali memerlukan dana besar, bisa mencapai lebih seratus miliar rupiah,” beber Emma.

“Tapi perbaikan itu menggunakan dana APBN, jangan sampai juga malah membebani Balangan,” imbuhnya.

Jika pemerintah bergeming, kemungkinan besar warga akan turun ke jalan melakukan demonstrasi.

“Tadi saya baca di grup-grup percakapan WhatsApp di Amuntai, warga menolak keras dan sudah ada yang mengajak untuk demo,” pungkasnya.

Komentar