News

Jawa Barat dan Sumatera Selatan Kurangi Impor Melalui Barter Komoditas UMKM

apahabar.com, JAKARTA – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menandatangani 12 perjanjian jual beli komoditas Usaha Mikro…

Featured-Image
Gubernur Jawa Barat, Ridwal Kamil. Foto: jpnn.com

apahabar.com, JAKARTA - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menandatangani 12 perjanjian jual beli komoditas Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dengan Herman Deru selaku Gubernur Sumatra Selatan guna memenuhi kebutuhan bahan baku di provinsi masing-masing demi mengurangi impor.

"Sumatera Selatan butuh apa, kami ingin tahu kalau barangnya ada di Jawa Barat jangan beli dari China, ya impor, beli aja di Jawa Barat. Sebaliknya juga kami butuh apa, kami tidak akan beli (impor), kalau ada datanya ternyata barang-barangnya ada dari Palembang atau Sumatera selatan. Karena kalau kita sudah bersatu Indonesia pasti maju," ungkap Ridwan Kamil dalam Harnas UMKM Bandung 2022 bertajuk UMKM Juara dengan Digital melalui siaran daring, Jumat (12/8).

Ridwan Kamil mengatakan pada peringatan hari nasional UMKM 2022 bahwa pertumbuhan ekonomi semester ini sebesar 5,6 persen. Angka tersebut dinilainya lebih tinggi dari nasional. Sedangkan inflasi masih di angka 4 persen.

"Kata pak presiden, selama pertumbuhan masih lebih tinggi dari inflasi sementara kita aman, tapi kalau udah inflasi lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi itu sudah lampu kuning lampu merah. Negara-negara yang sekarang krisis dan bangkrut itu rata-rata rumusnya sederhana, inflasinya lebih tinggi dari pertumbuhan ekonominya," kata Ridwan.

Ridwan menegaskan agar saat ini tidak menggantungkan perdagangan dengan cara impor, jika bisa dilakukan perdagangan antar dalam negeri. Lebih lanjut, ia juga berpesan kepada menteri untuk megirimkan data kebutuhan perdagangan yang ada di provinsi lain.

"Papua butuh apa, Kalimantan butuh apa, Bali butuh apa siapa tau Jawa Barat punya. Sebaliknya saya akan merilis (data kebutuhan). Sapi kita butuh banyak ya belum surplus, urusan protein ayam dan sebagainya banyak," ucap pria yang kerap disapa Kang Emil.

Ia membandingan keadaan perekonomian di Indonesia yang masih lebih baik dibandingkan dengan negara di Eropa yang sedang mengalami krisis. Situasi tersebut memberikan dampak harga energi yang naik 5 kali lipat, termasuk harga pangan naik 3 kali lipat dengan mengorbankan kesejahteraan rakyat.

"Saya baca di Economic Forum. Bada magrib kotanya mati lampu, menghemat tidak ada lampu nyala-nyala romantis lagi kayak dulu karena energinya mahal berlipat-lipat, makanan di Eropa, di supermarket ukurannya sudah lebih kecil, harganya sama USD 1, tapi ukurannya tinggal dua per tiga, tiga per empat, mereka sebegitunya ya," pungkasnya. (Resti)

Tags
News
Komentar