Hot Borneo

Harga Beras Lokal Naik, Pedagang di Banjarbaru: Minimnya Pasokan dan Kenaikan Harga BBM Jadi Pemicu

Beras lokal premium kembali mengalami kenaikan. Dari Pantauan di pasaran harga beras lokal ini naik dari 500 hingga Rp1,5 ribu.

Featured-Image
Harga beras lokal di Kalsel naik. Foto ilustrasi-dok apahabar.com

apahabar.com, BANJARBARU - Beras lokal premium kembali mengalami kenaikan. Dari Pantauan di pasaran harga beras lokal ini naik dari Rp500 hingga Rp1.500.

"Saya menjual beras Sihirang menjadi 9 ribu rupiah per liter, dari yang dulu Rp8.500," ucap Hendri, pedagang beras di depan pasar Bauntung, Banjarbaru, Jumat (2/12).

Untuk harga beras mutiara usang, kata dia, naik dari Rp13.500 menjadi Rp14 ribu per liter. Adapun beras Jambun juga sama, yang semula Rp13.500 kini dijual Rp14.000.

"Beras mayang dari harga Rp13.500 menjadi Rp14.000," katanya.

Menurut Hendri, kenaikan harga beras naik ini lantaran pasokan dari petani dan pemasok sudah jarang.

"Jarang, paling yang menjual ke pedagang sebulan sekali itu pun harganya sudah tinggi dari awal," akunya.

Abi, pedagang beras lainnya, mengatakan beras Banjar saat ini naik cukup signifikan. Dijelaskan, kenaikan harga ini sudah sebulan terakhir.

"Lumayan tinggi naiknya, mencapai 30-35 persenan lah untuk beras Banjar. Beras jenis siam, unus, mayang, mutiara dan jenis beras ganal (beras besar) misalnya," tutur," Abi.

Dulu, ujar Abi, harga beras jenis mayang satu sak (karung isi 50 Kg) hanya di kisaran Rp540 ribu, tapi sekarang mencapai Rp700 ribuan.

Sedangkan jenis beras unus sebelumnya Rp480 ribu, sekarang naik jadi Rp600 ribu. Sementara untuk beras siam, dari Rp450 ribu naik menjadi Rp550 ribu per sak.

"Artinya, dalam satu liter naiknya bisa sampai Rp3 ribu lebih," jelas Abi.

Menurut Abi, naiknya harga beras selain karena pasokan yang sedikit akibat gagal panen, tapi juga lantaran ada penambahan pengeluaran biaya-biaya lainnya.

"BBM-kan naik juga, ongkos transportasi otomatis naik. Belum lagi upah buruh angkut yang juga ikut naik. Dulu satu sak beras upahnya hanya Rp3 ribu, sekarang naik jadi Rp5 ribu per sak," katanya.

Meski harga naik, Abi menuturkan, kualitas beras saat ini tak lebih bagus dari sebelumnya. Salah satu penyebabnya adalah gabah yang kurang kering saat proses penjemuran.

Abi mengaku, saat ini dirinya lebih suka membeli gabahnya saja, baru dijemur dan digiling sendiri, lalu kemudian dijual berasnya.

"Kalau menjemur gabah sendiri bisa lebih kering, jadi berasnya juga lebih bagus," imbuhnya.

Abi juga memprediksi, harga beras lokal yang dihasilkan dari daerah sentra penghasil beras seperti Anjir, Gambut dan paling banyak Marabahan ini akan terus mengalami kenaikan.

Editor
Komentar