Hot Borneo

Fakta Baru Hacker Amuntai: Tak Bisa Bahasa Inggris hingga Sosok Misterius yang Bantu RNS

apahabar.com, BANJARBARU – Hacker muda asal Amuntai, RNS, tidak bersalah. Itu merupakan keyakinan penasihat hukum yang…

Featured-Image
Fakta Baru Hacker Amuntai: Tak Bisa Bahasa Inggris hingga Sosok Misterius yang Bantu RNS. Foto-Dok,apahabar.com

apahabar.com, BANJARBARU – Hacker muda asal Amuntai, RNS, tidak bersalah. Itu merupakan keyakinan penasihat hukum yang ditunjuk negara setelah mendampingi peretas berusia 22 tahun tersebut.

Ketua Posbakumadin Banjarbaru Edi Gutomo melalui anggotanya Henrika Radixa F menyebut keyakinan itu bukannya tanpa dasar. Dia berkata ada pernyataan saksi hingga fakta di lapangan yang akan membantu meringankan RNS.

“Waktu kami ditunjuk PN untuk mendampingi, saya pelajari kasusnya, hati saya mengatakan bahwa anak ini harus dibantu. Dia bukan penjahat,” ujar Henrika Radixa F kepada apahabar.com Jumat (1/4).

Rika juga sudah mempelajari pasal-pasal yang didakwakan. Salah satunya terkait pencucian uang. Dia bersama tim kemudian mencoba menelusuri kebenaran dugaan itu. Hasilnya, fakta dugaan pencucian uang itu tak bisa mereka temukan.

RNS, menurut Rika, tidak menggunakan uang hasil meretas untuk memperkaya diri. RNS, kata dia, hanya punya satu ATM. Si hacker juga diketahui memberikan uang kepada istri dan orang tuanya dengan dana cash untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Rika bahkan menyebut RNS layaknya pemuda pada umumnya yang belum dewasa dan suka membeli barang-barang yang dia sukai. Hingga kini, RNS masih mengontrak rumah bersama istrinya. Kehidupan keluarganya pun sederhana.

Untuk lebih memperkuat fakta-fakta baru yang dia temukan, Rika akan mencoba mengumpulkan sebanyak mungkin saksi. Rencana bertemu Wali Kota Banjarbaru M Aditya Mufti Ariffin juga sudah dimatangkan.

“Agar RNS diberikan bimbingan dan pengarahan ketimbang ditahan,” katanya.

Dukungan untuk RNS sebenarnya sudah banyak mengalir, baik dari masyarakat umum maupun pejabat publik. Misalnya, dari Bupati Amuntai, Husairi Abdi dan Ketua DPRD Amuntai, Almien Ashar.

Hal lain yang perlu menjadi catatan, kata Rika, yakni RNS sebenarnya tidak melakukan peretasan. Dia hanya menjual program ciptaannya. Itu pun dengan harga murah.

“Anak ini bangga dengan karyanya, dan dihargai oleh banyak orang, bahkan di luar negeri. Dengan kepolosannya ia asal menjual tanpa dipatenkan dulu,” terang Rika.

Apalagi latar belakang kehidupan RNS tak terlalu baik. Dia berasal dari keluarga broken home. Ekonominya seret. Karena alasan itu lah dia menjual alat ciptaannya dengan harga miring.

“Dia dari kampung, tidak bisa berbahasa inggris, tidak pandai berkomunikasi dengan orang luar negeri. Bagaimana dia bertransaksi? Siapa yang mengajarkan?” sebut Rika.

Dia menduga ada oknum yang membantu RNS untuk menjual alat peretas itu ke luar negeri. Rika mengungkapkan RNS sebenarnya sudah berhenti mengembangkan 16Shop sejak akhir 2019 dan beralih ke dunia fotografi. Namun pada akhirnya nama RNS masih disangkutpautkan, karena dia adalah pembuat 16Shop.

“Dugaan, ya. Dengan kata lain, 16Shop kini dijalankan oleh satu pengembang saja,” duganya.

Rika memperoleh informasi pengembang 16Shop saat ini juga berasal dari Indonesia. “Ini yang harus dicari tahu. RNS masih sangat muda dan karyanya dimanfaatkan orang lain,” tambahnya.

Komentar