Relax

Dilantik Jadi Presiden, Titah Pertama Soekarno Hanya Minta Sate

apahabar.com, JAKARTA – Usai teks proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945, sore harinya, Bung Hatta menerima…

Featured-Image

apahabar.com, JAKARTA – Usai teks proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945, sore harinya, Bung Hatta menerima telepon dari Nishiyama, yang merupakan ajudan Laksamana Maeda. Katanya, ada seorang opsir Angkatan Laut Jepang yang ingin bertamu.

"Opsir itu menginformasikan bahwa wakil-wakil umat Protestan dan Katolik, yang dikuasai oleh Angkatan Laut Jepang, berkeberatan sangat terhadap bagian kalimat dalam pembukaan Undang-Undang Dasar, yang berbunyi, 'Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya'," tulis Bung Hatta dalam memoar Untuk Negeriku: Menuju Gerbang Kemerdekaan (2011).

Persoalan ini lantas menjadi agenda yang dibahas dalam sidang Panitian Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) keesokan harinya, 18 Agustus 1945.

Selain membahas perihal 'diskriminasi' tersebut, hasil sidang yang digelar di Gedung Road Van Indie di Jalan Pejambon itu juga menunjuk Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai presiden dan wakil presiden pertama Indonesia.

Keputusan ini tak terlepas dari usulan Otto Iskandardinata, yang kala itu menyarankan agar pemilihan presiden dan wakilnya dilakukan secara aklamasi saja. Semua anggota PPKI pun satu suara untuk menetapkan Soekarno-Hatta sebagai pemimpin bangsa.

Selepas sidang, semua anggota PPKI kembali ke kediaman masing-masing. Indonesia yang saat itu masih berumur sehari, belum mempunyai mobil kepresidenan untuk mengantar-jemput Bung Karno. Orang nomor satu di Tanah Air itu lantas pulang dengan berjalan kaki.

Di perjalanan pulang, Bung Karno bertemu dengan penjual sate tanpa alas kaki di pinggir jalan. Dari sinilah, kisah unik terukir dalam sejarah. Soekarno kemudian memanggil penjual itu dan memerintahkannya untuk membuatkan sate ayam.

img

"Sate ayam lima puluh tusuk!" ujarnya, seperti dikutip dari buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat (2014) karya Cindy Adams. Begitulah titah pertama Soekarno, usai dilantik menjadi presiden pertama Indonesia.

Tanpa sungkan, Bung Besar melahap santapannya itu di tempat kaki lima. Tak ada perlakuan spesial, Soekarno berjongkok di dekat got dan tempat sampah, sebagaimana pengunjung lainnya.

"Itulah seluruh pesta perayaan terhadap kehormatan yang kuterima," kenang Soekarno, masih dalam buku autobiografinya karya Cindy Adams.

Ramalan sang Ayah Terwujud

Selepas mengisi perut, Soekarno kembali ke rumah. Dia menyampaikan kepada sang istri, Fatmawati, perihal dirinya dilantik menjadi presiden. Namun, Fatmawati tak menyambutnya dengan sorak sorai kegirangan.

Bukannya tak senang, ibu negara pertama itu langsung teringat dengan perkataan ayah mertuanya, Raden Sukemi Sosrodihardjo, sebelum meninggal. Suatu malam, sekira pertengahan Mei 1945, Fatmawati terjaga sendirian menemani ayah Bung Karno itu.

img

Ketika seisi rumah sudah terlelap, Fatmawati memijit sang mertua yang sedang sakit. Saat itulah, Raden Sukemi tiba-tiba membisikkan sebuah ramalan ke telinga menantunya.

"Aku melihat pertanda secara kebatinan bahwa tidak lama lagi… dalam waktu dekat… anakku akan tinggal di istana yang besar dan putih itu."

Beberapa waktu setelah menyampaikan ramalan itu, Raden Sukemi mangkat. Fatmawati tak memberi tahu sang suami soal prediksi tersebut, sampai akhirnya ramalan itu benar-benar terwujud tiga purnama kemudian. (Nurisma)

Komentar