Relax

Deteksi Tumbuh Kembang Anak Lewat Hormon Tiroid, Kemenkes Optimalkan Hal Ini

apahabar.com, JAKARTA – Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menyebut kelainan hormon tiroid atau Hipotiroid Kongenital…

Featured-Image

apahabar.com, JAKARTA – Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menyebut kelainan hormon tiroid atau Hipotiroid Kongenital (HK) pada bayi baru lahir berisiko menyebabkan masalah kesehatan serius. Salah satunya, dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan saraf otak.

“Kalau anak-anak memiliki hormon tiroid normal maka pertumbuhan dan perkembangannya akan berlangsung dengan baik dan optimal. Tinggi badan dan berat badannya cukup, kecerdasannya juga bagus," ujar Dante, dilansir dari laman sehatnegeriku.kemkes.go.id, Jumat (2/9).

Dante menjelaskan kerusakan saraf otak itu berpotensi membuat anak tidak tumbuh optimal, cenderung pendek, dan berat badan kurang. Bahkan, pengobatan yang terlambat dapat menyebabkan anak mengalami kecacatan ataupun keterbelakangan mental.

Untuk itu, Dante menilai, perlu adanya Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) sesegera mungkin. Sebab, pemberian terapi sebelum bayi berusia satu bulan bisa mencegah kerusakan saraf otak, sehingga bayi dapat tumbuh dengan baik.

Pemeriksaan hormon tiroid sendiri dilakukan dengan mengambil dua hingga tiga tetes sampel darah. Ini diambil dari bagian tumit bayi yang berusia 48 sampai 72 jam, dan hanya boleh dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Implementasi SHK di Indonesia Belum Optimal

Dante memaparkan bahwasanya SHK telah dimulai sejak 2003. Hingga tahun 2020, tercatat lebih dari 4.000 fasilitas pelayanan kesehatan telah melaksanakan SHK.

Implementasi tersebut diwujudkan dengan pemeriksaan laboratorium di empat rumah sakit vertikal. Di antaranya, RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo, RSUP Dr. Hasan Sadikin, RSUP dr. Sardjito dan RSUD dr. Soetomo.

Namun, Dante menilai pencapaian itu masih belum optimal. Sebab, belum semua fasilitas pelayanan kesehatan di semua kabupaten/kota menerapkan pemeriksaan HK.

Untuk itu, sambung Dante, Kementerian Kesehatan melakukan berbagai upaya guna meningkatkan cakupan pelayanan SHK. Di antaranya, membuat materi edukasi, melakukan sosialisasi, pelatihan, menyiapkan anggaran pelaksanaan skrining, sistem pencatatan, dan pelaporan.

Selain itu, Kementerian Kesehatan juga bakal menambah tujuh laboratorium pemeriksa SHK.

“Sekarang baru ada empat lab yang bisa melakukan pemeriksaan SHK. Dengan keinginan kita untuk melakukan pemeriksaan kepada seluruh bayi baru lahir, maka kita perlu meningkatkan jumlah laboratorium dari empat laboratorium menjadi 11 laboratorium," imbuh Dante.

Adapun ketujuh laboratorium itu akan ditempatkan di RSUP Karyadi Semarang, RSUP Adam Malik Medan, RSUP Dr M Djamil Padang, RSUP M Hoesin Palembang, RSUP Prof Dr IG Ngoerah Denpasar, RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar dan RSUP Dr R.D Kandouw Manado. (Nurisma)

Komentar