Hot Borneo

Denyut Jual-Beli di Pasar Baru Banjarmasin Kian Melemah, Pemkot Bisa Apa?

Denyut jual-beli di Pasar Baru, Kertak Baru Ilir, Banjarmasin Tengah, kian melemah tiap waktunya.

apahabar.com, BANJARMASIN - Denyut jual-beli di Pasar Baru, Kertak Baru Ilir, Banjarmasin Tengah, kian melemah tiap waktunya.

Pengunjung yang dahulu berjubel memadati pasar, kini hanya jadi cerita. Kehilangan pembeli, beberapa pedagang memilih gulung tikar. 

Pantauan media ini, banyak kios-kios di Pasar Baru yang kini kosong. Padahal jika dibanding beberapa tahun silam, harga sewa kios di pasar ini turun sekitar 80 persen.

Jika dahulunya sewa kios mencapai Rp45 juta per tahun, saat ini tarif sewa kios di sana hanya Rp10 juta per tahun.

Salah satu pedagang, Syaiful Hadi mengatakan, lesunya penjualan sudah terjadi sejak tahun 2010 ke atas. Diperparah dengan terjadinya pandemi Covid-19.

"Di tahun-tahun itu transaksi keuangan kita sangat menurun," ucap mantan ketua paguyuban Pasar Baru tersebut kepada apahabar.com, pada Senin (17/10) kemarin. 

Menurut Syaiful, faktor penyebab menurunnya pengunjung dikarenakan peralihan kebiasaan masyarakat yang saat ini membeli barang melalui platform daring alias online. 

Sebelum maraknya platform jual-beli daring, kata Syaiful, tiap pedagang Pasar Baru biasanya memiliki pelanggan tetap. 

Pasar Baru sendiri memiliki empat blok, di antaranya Blok Samudera Baru, Blok Baru Permai, Blok Niaga, Blok Minseng. Pasar ini didominasi oleh pedagang konveksi.

"Dulu saya punya pelanggan hingga di Kalteng dan Kaltim," katanya. 

Namun sejak bermunculannya platform jual-beli online, Syaiful merasa pengunjung pasar makin sepi.

"Karena sekarang orang begitu mudah berbelanja," ungkapnya.

"Terlebih berbelanja online sekarang bisa bayar di rumah atau COD. Itu lah yang sangat merubah keadaan di pasar sekarang," lanjutnya.

Dengan begitu, pelanggan Syaiful yang ada di daerah kini mulai beralih ke platform jual-beli online. 

"Mereka tak pernah lagi berbelanja di tempat kita," bebernya.

Selain itu, ujar Syaiful, kalau dahulu para pedagang masih berani memberikan bon kepada pelanggan. Dengan melemahnya penjualan, maka hal tersebut tak lagi bisa dilakukan.

Dengan kondisi demikian, sejumlah pedagang di pasar pun kini juga mesti beralih menjual barangnya di online untuk tetap bisa survive berusaha.

Tapi tetap saja, penjualan di platform daring tidak sama dengan omzet yang dihasilkan saat pasar masih ramai dahulu.

Jika dahulu pelanggan biasanya memesan dalam jumlah besar, kalau sekarang paling lima lembar sudah terhitung banyak.

"Selain itu, ada beberapa pedagang yang kurang memahami penggunaan ponsel, mereka pun hanya menunggu pembeli datang ke pasar," imbuhnya.

"Hanya mengharap satu atau dua orang langganan. Beberapa waktu kadang tidak bawa uang sama sekali ke rumah," tambahnya.

"Kalau sekarang dibanding 10 tahun lalu itu, 20 persen saja tidak sampai omzet yang dihasilkan," lanjutnya.

Untuk itu, Syaiful lantas berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan para pedagang di Pasar Baru Banjarmasin.

"Kami berharap ada perhatian, misalnya ada pinjaman kredit lunak tanpa bunga untuk para pedagang, minimal 6 bulan sekali, sehingga kami bisa mengembangkan usaha," pintanya.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Banjarmasin, Ichrom Muftezar mengakui jika perubahan pola kebiasaan masyarakat jadi faktor utama sepinya pengunjung di pasar.

Tapi Tezar, sapaan akrabnya, menganggap jika itu hanya secara tampilan. Pasar memang sepi, tapi tak serta-merta dengan penjualan.

"Pedagang biasanya sudah punya langganan, jadi memang pembeli ini tidak harus ke pasar lagi," katanya.

Di samping itu, Tezar berharap kalau pedagang bisa bersiasat. Juga menjual barang secara online. Tidak terpaku pada cara-cara konvensional.

"Pedagang mestinya bisa mensiasati itu dengan berjualan online," tegasnya.

"Kita kan dari pemerintah sudah sediakan platform jualan seperti e-katalog dan baiman store. Di sana pedagang bisa menawarkan barangnya secara online. Ini salah satu upaya kita untuk membantu," paparnya.

Pengamat ekonomi Universitas Lambung Mangkurat, Ahmad Yunani menjelaskan, tantangan pedagang di pasar tradisional di masa kini memang agak sulit.

Faktor utamanya, kebiasaan masyarakat yang beralih melakukan transaksi jual-beli di platform daring. Terlebih lagi, anak muda sekarang biasanya lebih memilih berbelanja di pasar modern seperti mal.

"Banyaknya pilihan pasar juga jadi satu faktor sepinya pengunjung di pasar tradisional," ungkapnya.

Sehingga ia hanya berpesan kepada pemerintah agar bisa memberikan fasilitas pasar yang nyaman bagi pengunjung.

"Namun itu juga tidak serta-merta bisa membuat pasar ramai. Karena kembali lagi ke pilihan konsumen," tandasnya.

Editor
Komentar