Tak Berkategori

Beda SMA Reguler dan SMALB Saat Ujian Nasional

apahabar.com, BANJARMASIN – Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) Dharma Wanita masih menggunakan konsep Ujian Nasional…

Featured-Image
Salah seorang siswa berkebutuhan khusus mengikuti ujian nasional di SMALB Dharma Wanita, Selasa (2/4). Foto-apahabar.com/Robi

apahabar.com, BANJARMASIN – Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) Dharma Wanita masih menggunakan konsep Ujian Nasional Berbasis Kertas dan Pensil (UNBKP).

Sekolah anak berkebutuhan khusus atau ‘ABK’ ini memang beda dalam pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).

“Hendaknya sih menggunakan sistem UNBK. Tapi apa boleh buat, kita tak bisa mendahului kebijakan,” ucap Kepala SMALB Dharma Wanita, Subagya kepada apahabar.com, Selasa (2/4).

Dengan sistem UNBK, sebagian sekolah reguler pun masih ada yang menumpang dalam pelaksanaannya. SMALB Dharma Wanita sendiri sudah memiliki 15 buah komputer.

Baca Juga: Soal UNBK Matematika Dikeluhkan Siswa SMA

Ia pun mengklaim semua ABK mahir mengaplikasikan komputer tersebut. “Baik itu Tunarungu, Tunadaksa maupun Tunagrahita,” tegasnya.

Sampai hari ini, sambung dia, terdapat dua kelas yang menggunakan sistem UNBKP, yakni kelas XII Jurusan B khusus Tunarungu dan XII Jurusan D khusus Tunadaksa. Untuk jurusan B berjumlah 2 orang siswa dan jurusan D berjumlah 1 orang anak.

“Untuk kelas XII Jurusan C khusus Tunagrahita juga ada di SMALB Dharma Wanita dengan jumlah 9 orang siswa, tapi tak diikutsertakan dalam UNBKP,” jelasnya.

Sedangkan mata pelajaran yang diujikan, yaitu Bahasa Indonesia, Matematika dan Bahasa Inggris. Materi untuk siswa jurusan B pun tingkat kesulitannya lebih disederhanakan.

Baca Juga: Demi UNBK, Guru Jemput Siswa yang Terlambat

Misalnya dalam penulisan kata atau kalimat. Mengingat, anak dengan hambatan pendengaran sangat terkendala dalam kosakata.

“Kalau jurusan D tentunya tak ada kendala yang berarti dalam pemilihan kosa kata, karena hanya mengalami ketunaan secara fisik,” tegasnya.

Dalam melaksanakan ujian nasional tak ada hambatan sedikit pun. Lantaran, pihaknya telah dua kali melaksanakan try out. Tinggal, ujar dia, bagaimana kesiapan anak belajar di rumah.

“Yang jelas secara teknis, kita pihak sekolah tak ada masalah,” cetus dia.

Baginya mendidik anak berkebutuhan khusus merupakan sebuah tantangan tersendiri. Setiap orang bisa mentransfer pengetahuannya, namun tak semua orang bisa mendidik, membentuk karakter anak.

“Kita harus siap menghadapi anak difabel. Karena kita selalu berhadapan dengan hambatan,” tutupnya.

Baca Juga: Hari Pertama UNBK, Dewan Merasa Kasihan

Reporter: Muhammad Robby
Editor: Fariz Fadhillah

Komentar