Sport

Apakah Mundurnya Iwan Bule dan STY Menyelesaikan Masalah Sepak Bola Indonesia?

Apakah dengan mundurnya Ketum PSSI, Iwan Bule, dan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong (STY), akan menyelesaikan masalah sepak bola Indonesia?

Featured-Image
Shin Tae-yong mendadak dihujat, karena dianggap mendukung Mochamad Iriawan yang sebelumnya didesak mundur dari kursi ketua umum PSSI. Foto-CNN

apahabar.com, BANJARMASIN - Apakah dengan mundurnya Ketua Umum (Ketum) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Mochammad Iriawan, dan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong (STY), akan menyelesaikan masalah sepak bola Tanah Air?

Ini merupakan pertanyaan simple, namun harus direnungkan bersama. 

Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan sedikitnya 131 orang memang menjadi tragedi kemanusiaan, sekaligus sejarah kelam sepak bola Indonesia.

Saya meyakini seluruh elemen enggan menghendaki peristiwa nahas ini.

Pun demikian mereka yang saat ini diberi amanah mengelola dunia persepakbolaan Tanah Air.

Toh, aparat penegak hukum sudah bekerja secara maksimal, dengan menetapkan enam orang tersangka dalam kasus tersebut.

Di antaranya yakni Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB) Ahmad Hadian Lukita, Ketua Panitia Pelaksana Arema Malang Abdul Haris, security steward Suko Sutrisnom.

Kemudian, Kabag Ops Polres Malang Kompol Wahyu Setyo Pranoto, Kasat Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Achmadi, dan Komandan Kompi Brimob Polda Jawa Timur AKP Hasdarman.

Tidak hanya itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga mencopot Kapolda Jatim, Irjen Pol Nico Afinta. 

Kendati begitu, warga internet (warganet) alias netizen Indonesia tidak langsung puas.

Malahan, mereka kembali berulah dengan mendesak mundur Ketum PSSI, Iwan Bule. Termasuk mendesak keluar pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong.

Jika keduanya mengamini permintaan netizen, apakah masalah sepak bola Indonesia kelar?

Padahal Shin Tae-yong berhasil menaikkan peringkat FIFA Indonesia dari 173 menjadi 152 dunia dengan torehan 1033,9 poin.

Tidak sedikit pula rakyat Indonesia yang menaruh harapan besar kepada pelatih asal Korea Selatan tersebut. Terutama dalam membina pesepakbola muda. 

Shin Tae-yong juga sukses mengorbitkan pesepakbola Indonesia untuk bermain di liga-liga luar negeri, seperti Asnawi Mangkualam, Pratama Arhan, Witan Sulaeman dan Egy Maulana Vikri.

Dualisme Kekuasaan, Sepak Bola Dikorbankan

La Nyalla dan Nurdin Halid. Foto-net
La Nyalla dan Nurdin Halid. Foto-net

Jika menengok jauh ke belakangan, tepatnya 2012 silam, federasi sepak bola negeri ini pernah berada di titik terendah, sengkarut, bahkan bisa dikatakan bobrok. 

Imbas kekuasaan, dunia sepak bola Indonesia pernah dikorbankan. 

Kala itu, dualisme di batang tubuh PSSI berbuntut terhadap kompetisi Liga Indonesia.

Di mana, Indonesia Super League dan Indonesia Premier League pernah sama-sama dianggap sebagai breakaway league.

Indonesia Super League atau yang juga disebut Liga Super Indonesia merupakan kompetisi sepak bola kasta tertinggi di Indonesia yang sudah dimulai pada 2008, sebagai bentuk modernisasi kompetisi Liga Indonesia yang sudah masuk ke level profesional sejak 1994.

Setelah sebelumnya Liga Indonesia menggunakan sistem pembagian wilayah, Indonesia Super League hadir menjadi sebuah kompetisi yang benar-benar sama seperti kompetisi sepak bola di Eropa, dengan penghitungan poin dari awal hingga akhir kompetisi.

Persipura Jayapura merupakan juara pada edisi pertama ISL, yaitu pada musim 2008-2009. Arema Indonesia kemudian menjadi juara di musim kedua ISL.

Persipura kemudian kembali menjadi juara pada musim 2010-2011, di mana saat itu muncul kompetisi tandingan bernama Liga Primer Indonesia yang dikelola oleh PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS).

Liga Primer Indonesia saat itu dianggap sebagai breakaway league karena tidak memiliki izin dari PSSI selaku asosiasi resmi sepak bola di Indonesia.

Namun LPIS menyatakan penyelenggaraan LPI adalah sesuai rekomendasi Kongres Sepak Bola Nasional yang dilaksanakan di Malang pada Maret 2010.

"Dalam amanat itu disebutkan meperbaiki sepak bola di Tanah Air perlu melibatkan berbagai pihak, termasuk pengusaha yang tergabung dalam konsorsium LPI," ujar juru bicara LPI, Abi Hasantoso kala itu dilansir Bola.com.

Dalam prosesnya sejumlah klub yang merupakan anggota PSSI tapi memilih berkompetisi di LPI pun mendapatkan ancaman hukuman berat, termasuk status degradasi ke divisi satu dan diminta mengembalikan aset-aset PSSI.

Empat klub mendapatkan ancaman tersebut, yaitu Persema Malang, PSM Makassar, Persebaya Surabaya dan Persibo Bojonegoro.

Saat itu, PSSI di bawah kendali Nurdin Halid memang benar-benar menutup diri dari upaya banyak pihak yang berniat untuk memperbaiki sepak bola Indonesia. Mengingat begitu banyak praktik kotor yang terjadi dalam sepak bola Indonesia.

Selain PSM, Persema, Persebaya, dan Persibo, begitu banyak klub baru yang bermunculan untuk bisa menjalankan kompetisi Liga Primer Indonesia, di antaranya Bali Devata, Batavia Union, Jakarta FC, Medan Chiefs, Minangkabau FC, Real Mataram, Semarang United, Solo FC, hingga Tangerang Wolves.

LPI akhirnya tetap berjalan di bawah pengawasan Komite Normalisasi PSSI dan harus selesai ketika putaran pertama kompetisi tersebut berakhir, atau bisa dibilang LPI hanya berjalan setengah musim.

Sementara itu, Indonesia Super League tetap berjalan sejak 2010 hingga 2011 dengan Persipura keluar sebagai juara.

Singkat cerita ketika Komite Normalisasi PSSI mengantarkan federasi sepak bola Indonesia itu bisa menjalani kongres dan mendapat ketua umum baru, yaitu Djohar Arifin Husein, babak baru dualisme kompetisi kembali dimulai.

PSSI era Djohar Arifin Husein memutuskan untuk menunjuk Liga Prima Indonesia Sportindo, yang sebelumnya mengelola LPI, untuk mengelola kompetisi resmi milik federasi. PT LPIS pun membentuk Indonesia Premier League sebagai kompetisi resmi pada musim 2011-2012.

Kisruh pun berlanjut karena polemik yang luar biasa membuat sejumlah klub tidak setuju untuk bermain di kompetisi yang disupervisi oleh PT LPIS yang musim sebelumnya gagal menjalankan roda kompetisi LPI.

Kisruh di dalam kepengurusan PSSI menyeruak. Dimotori oleh anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI saat itu, La Nyalla Mattalitti, terbentuklah Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) yang akhirnya tetap menjalankan Indonesia Super League.

Dualisme kompetisi pun terjadi. Sejumlah klub melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Liga Indonesia berkehendak agar liga tetap berada di bawah PT Liga Indonesia untuk bermain di Indonesia Super League.

Namun, karena saat itu PSSI telah membentuk Indonesia Premier League sebagai liga yang resmi, maka Indonesia Super League ganti dianggap menjadi breakaway league.

Masalah baru pun timbul. Sejumlah klub terkena imbas dengan munculnya dualisme klub. Persija, Arema, Persebaya, dan PSMS adalah contoh klub-klub yang pada akhirnya menjadi dua.

Indonesia Premier League akhirnya diikuti oleh 12 klub. Semen Padang, Persebaya, Arema, Persibo, Persiba Bantul, PSM, Persiraja, Persema, Persija, Persijap, Bontang FC, dan PSMS.

Awalnya, LPIS berencana menggelar laga pembuka Indonesia Premier League dengan pertandingan antara Persib Bandung kontra Semen Padang. Namun, laga tersebut batal karena Persib memutuskan untuk tetap berkompetisi di Indonesia Super League.

Persib berkompetisi di Indonesia Super League bersama tim-tim yang juga memiliki nama besar. Persiwa Wamena, Persela Lamongan, Persija Jakarta, Pelita Jaya, Persiba Balikpapan, Mitra Kukar, Persidafon Dafonsoro, Persisam Putra Samarinda, Arema Indonesia, PSPS Riau, Persiram Raja Ampat, Persegres Gresik United, PSMS Medan, Deltras Sidoarjo, PSAP Sigli, Persipura Jayapura, dan Sriwijaya FC menjadi peserta, di mana nama terakhir menjadi juara.

Sementara di Indonesia Premier League, Semen Padang menjadi juara, mengungguli Persebaya 1927 dan Arema yang juga bertanding di kompetisi yang saat itu menjadi liga yang resmi.

Proses Penyatuan Kompetisi

ISL dan La Nyalla. Foto-net
ISL dan IPL. Foto-net

Indonesia Premier League masih menjadi kompetisi resmi PSSI pada 2013. Namun, Indonesia Super League 2013 pun dianggap resmi setelah proses panjang yang dilalui sepak bola Indonesia hingga lahir Join Committe PSSI, yang terbentuk setelah penandatanganan MoU antara Djohar Arifin Husein dan La Nyalla Mattalitti yang diinisiasi oleh taskforce AFC.

Indonesia Super League yang diikuti oleh 18 tim, akhirnya menelurkan Persipura Jayapura sebagai juara. Sementara Indonesia Premier League, yang diikuti 16 tim, berjalan dengan sistem liga dan berlanjut ke fase play-off. Begitu kompetisi mencapai pertandingan final yang mempertemukan Semen Padang dan Pro Duta FC, pertandingan tersebut dibatalkan.

Sekjen PSSI saat itu, Joko Driyono, mengumumkan pembatalan final tersebut. Joko mengatakan pertandingan itu bukan prioritas karena kompetisi IPL sudah selesai sejak dibatalkan oleh PSSI. Ia menegaskan bahwa tujuan akhir dari play-off final itu adalah menentukan tujuh tim yang akan menjalani proses verifikasi untuk bergabung dalam liga baru pada 2014.

"Secara lugas, IPL sudah selesai. Playoff IPL dalam rangka unifikasi. Kami tidak bisa mengatakan, itu kompetisi IPL, karena IPL sudah dihentikan PSSI," ujar Joko pada Jumat (25/10/2013).

"Tujuan utama playoff adalah mempersiapkan 7 tim untuk diverifikasi dan mengikuti unifikasi liga musim depan. Jangan sampai terkendala agenda lain yang sebenarnya bukan prioritas," sambung Joko.

Pada akhirnya dua kompetisi tersebut digabungkan menjadi Indonesia Super League 2014. Mengingat adanya penggabungan, sejumlah tim menjalani verifikasi, di mana hanya ada 4 tim dari Indonesia Premier League 2013 yang bisa tampil di kompetisi 2014.

Dengan peserta kompetisi mencapai 22 tim, PT Liga Indonesia memutuskan untuk membagi kompetisi menjadi 2 wilayah dengan 11 tim di setiap wilayah. Dari setiap wilayah akan ada dua tim yang terdegradasi, di mana rencananya pada musim selanjutnya hanya ada dua tim yang promosi sehingga kompetisi akan diikuti oleh 20 tim.

Persita Tangerang dan Persijap Jepara menjadi dua tim dari wilayah barat yang terdegradasi. Sementara di wilayah timur ada Persepam Madura United dan Persiba Bantul.

Sementara itu, Persib Bandung menjadi juara setelah menang atas Persipura Jayapura di final yang digelar di Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang.

Beranjak dari problematika di atas, sudah sepantasnya kita menyadari, bangsa ini cukup lama berkecimpung dalam perihal "melengserkan" jabatan ketua feredasi sepak bola Indonesia. Toh, masalahnya hingga kini tidak kunjung selesai.

Mari kita beri waktu, baik PSSI maupun Shin Tae-yong, mewujudkan asa rakyat Indonesia yang telah lama terpendam. Kenaikan 20 peringkat FIFA Timnas Indonesia seyogyanya menjadi angin segar bagi bangsa ini.

Setop saling menyalahkan. Tragedi Kanjuruhan harus menjadi pelajaran berharga untuk reformasi sepak bola Indonesia.

Editor
Komentar