Hot Borneo

Analisis Walhi Kalsel Soal Kemunculan Buaya di Desa Bangkal Tengah

apahabar.con, BANJARMASIN – Kemunculan buaya muara di sungai sekitar Desa Bangkal Tengah RT 3, Kecamatan Tatah…

Featured-Image
Memiliki nama latin crocodylus porosus, buaya muara biasanya hidup di sepanjang sungai, muara, dan pesisir laut. Foto: Grid

apahabar.con, BANJARMASIN – Kemunculan buaya muara di sungai sekitar Desa Bangkal Tengah RT 3, Kecamatan Tatah Makmur, Banjar, menarik perhatian Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalimantan Selatan.

Diyakini salah satu faktor yang memicu kemunculan buaya di dekat pemukiman warga itu adalah kerusakan habitat asli.

“Penyusutan hingga bahkan kepunahan mangsa di habitat, bakal memaksa buaya mencari makanan di tempat lain,” ulas Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono, Jumat (2/9).

“Terlebih sungai di Desa Bangkal Tengah berjenis air payau yang biasanya disenangi jenis buaya muara,” imbuhnya.

Selain penyusutan mangsa, faktor lain yang diduga menjadi pemicu adalah kepadatan arus transportasi air di habitat awal.

“Kami berharap pemerintah melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel bisa melakukan upaya yang lebih besar, selain memasang papan imbauan,” tegas Kisworo.

“Juga harus dilakukan pengecekaan lebih lanjut. Kalau disebabkan kerusakan habitat, semstinya segera lakukan pemulihan,” tambahnya.

Kemunculan buaya muara di Desa Bangkal Tengah telah mengganggu aspek kehidupan warga. Terlebih sebagian besar mereka merupakan nelayan yang kerap mencari ikan dan udang di sungai.

“Seluruh warga ketakutan, terutama mereka yang biasa mencari udang atau ikan. Masalahnya buaya ini tak hanya muncul malam hari, karena terkadang bisa juga siang hari,” papar Kepala Desa Tatah Bangkal Tengah, Ali Pandi, Rabu (31/8).

Warga pernah berupaya untuk menangkap sendiri buaya tersebut. Namun tidak membuahkan hasil, karena si buaya lebih dahulu kabur.

“Makanya kami berharap buaya itu bisa segera diusir atau ditangkap, kemudian dipindahkan ke penangkaran. Kasihan warga yang biasa mencari nafkah di sungai,” tandas Ali Pandi.

Komentar