Hot Borneo

'Calap' Melulu, Apa yang Mesti Dilakukan Pemkot dan Masyarakat Banjarmasin?

Warga di sebagian wilayah Banjarmasin mengalami 'calap' satu pekan belakangan ini.

Featured-Image
Hujan deras dan banjir rob terjadi di kawasan Kelayan B, Banjarmasin Selatan. Foto-apahabar.com/Riyad

apahabar.com, BANJARMASIN - Warga di sebagian wilayah Banjarmasin mengalami 'calap' satu pekan belakangan ini.

'Calap' atau banjir rob diprediksi akan terus terjadi sejak 26 November hingga Senin, 5 Desember 2022.

Di Kota Banjarmasin, yang paling terdampak adalah wilayah-wilayah yang dekat dengan pesisir sungai seperti Pengambangan, Banua Anyar, Alalak, Kuin, Pelambuan dan lainnya.

Kenaikan air kerap terjadi pada waktu tengah malam, sekira pukul 23.00 hingga 04.00 Wita, yang tentunya sangat mengganggu waktu istirahat warga.

Banjir rob di Banjarmasin ini terus menjadi fenomena yang berulang setelah terjadinya banjir besar di Kalimantan Selatan (Kalsel) pada awal tahun 2021.

Beberapa warga, mengaku banjir hingga masuk ke dalam rumah, sebelumnya tidak pernah terjadi.

"Hanya setelah banjir besar di tahun 2021 itu," kata salah seorang warga di Alalak Tengah, Hasyim beberapa waktu lalu.

Hal demikian juga diakui oleh Rahma, salah seorang warga di Kelurahan Pelambuan.

"Memang baru setelah banjir tahun 2021 itu yang kemudian sampai masuk ke rumah. Ini kerap berulang apabila memasuki akhir tahun jika permukaan air laut sedang naik," ujarnya.

Lantas, apa penyebab dan bagaimana solusinya?

Pakar perencanaan kota Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Akbar Rahman mengungkapkan banjir rob berulang terjadi akibat anomali cuaca yang terjadi di Indonesia, termasuk Kalsel.

Hal berikut terjadi sejak 1980, 2000, 2020 hingga 2040 terjadi konsistensi kenaikan permukaan air laut.

Yang memperparah adalah, kata Akbar, tertahannya aliran air di sejumlah wilayah di Kota Banjarmasin.

"Memang banjir rob tidak bisa dihindari. Namun ketika air naik, yang paling penting adalah tidak bertahan, perlu waktu cepat untuk turun," tekan doktor urban design lulusan Saga University Jepang ini, Jumat (1/12).

Sehingga Akbar menyarankan, Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin semestinya memeriksa sistem drainase hingga daya tampung sungai-sungai yang ada.

Pemkot Banjarmasin diminta agar menjaga infrastruktur aliran air yang sudah ada. Jangan dibiarkan begitu saja, mesti sering-sering diperiksa atau maintenance.

"Apakah mengalirkan air dengan baik atau tertutup sampah? Kemudian lihat sungai, apakah menyempit? Apakah endapannya tinggi? Silahkan di-cek," paparnya.

Lebih jauh, kata dia, Pemkot Banjarmasin juga harus bisa membuat kebijakan yang lebih melibatkan masyarakat untuk menjaga lingkungan.

"Edukasi masyarakat, agar kesadarannya makin tinggi terhadap kondisi ini," ungkapnya.

Contoh kecil misalnya, di aspek pendidikan, pemerintah bisa memanfaatkan untuk memberikan pelajaran yang masif tentang menjaga kondisi sekarang.

"Sampaikan kepada siswa kalau kita berada di pinggiran sungai. Jelaskan bagaimana kita harus hidup dengan kondisi banjir rob yang sekarang ini. Seperti menjaga sungai, selokan dan lainnya," bebernya.

"Sama seperti di Jepang. Di Jepang itu, gempa hampir setiap hari terjadi, karena tak bisa mehindar, mereka lalu mengajarkan di sekolah kepada siswa bagaimana menghadapi kondisi tersebut," sambungnya.

Kepada masyarakat, Akbar meminta agar segera bisa lebih sadar dan peduli terhadap lingkungan sekitar. 

"Jangan lagi membuang sampah sembarangan. Jagalah drainase-drainase sekitar, jangan sampai tertimbun sampah. Gotong royong untuk membersihkan," harapnya.

"Sehingga kita bisa adaptif dengan kondisi ini," tambahnya.

Terlepas itu, Akbar melihat apa yang sejaih ini dilakukan oleh Pemkot Banjarmasin untuk mengentaskan banjir masih sangat tidak efektif.

Seperti halnya, upaya normalisasi sungai di kawasan A Yani Banjarmasin, selain tidak efektif, upaya itu dinilainya hanya setengah jalan.

"Itu sebenarnya hanya menyelesaikan permasalahan di atas, bawahnya belum. Karena tidak ada pengerukan-pengerukan," tuturnya.

"Normalisasi yang penting adalah menggali endapan-endapan di bawah sungai. Sehingga daya tampung sungai makin luas, makin mudah mengalirkan air," lanjutnya.

Jika Pemkot Banjarmasin beralasan tidak mempunyai anggaran untuk melakukan itu, Akbar menyarankan cara lain, yakni pelibatan masyarakat. 

"Ajak masyarakat bergotong-royong atau berpartisipasi untuk membersihkan sungai bersama. Karena ini merupakan masalah bersama," tutupnya.

Air mulai naik ke pemukiman warga di kawasan Pelambuan, Banjarmasin Barat. Foto: apahabar.com/Riyad
Air mulai naik ke pemukiman warga di kawasan Pelambuan, Banjarmasin Barat. Foto: apahabar.com/Riyad



 

Editor
Komentar